BERTUAHPOS — Pemerintah Provinsi Riau tengah membangun fondasi baru ekonomi berbasis integrasi perkebunan dan peternakan, melalui pembentukan tujuh klaster Sistem Integrasi Sapi dan Kelapa Sawit (SISKA) yang dijadikan proyek percontohan di lima kabupaten.
Program ini disiapkan sebagai langkah strategis untuk mengoptimalkan potensi ekonomi sawit sekaligus meningkatkan populasi ternak sapi secara signifikan.
Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Riau merancang klaster-klaster tersebut sebagai pilot project yang akan diuji efektivitasnya sebelum diperluas ke wilayah lain. “Model ini diharapkan mampu menghadirkan sistem bisnis peternakan yang lebih modern, terstruktur, dan berkelanjutan,” kata Kepala Dinas PKH Riau, Mimi Yuliani Nazir, di Pekanbaru.
Di Kabupaten Rokan Hulu, pengembangan dilakukan melalui dua titik utama yakni Klaster Sangkir Jaya di Desa Sangkir Indah dan Klaster Ternak Barokah di Desa Tandun. Sementara itu, Kabupaten Pelalawan mengandalkan Klaster Ternak Maju Bersama di Desa Rawang Sari sebagai pusat integrasi kawasan pesisir dan tengah.
Pengembangan juga berlangsung di Kabupaten Kampar melalui Klaster Jaya Abadi di Desa Tapung Lestari. Kabupaten Siak memiliki dua klaster strategis, yaitu Klaster Talago Samsam di Kandis serta Klaster Mutiara Indah di Tualang. Adapun wilayah selatan Riau diperkuat melalui Klaster Sinar Bakti di Desa Pontian Mekar, Kabupaten Indragiri Hulu.
Mimi menjelaskan, keberadaan klaster percontohan menjadi tahap penting untuk menyempurnakan pola integrasi sawit dan peternakan yang paling efektif secara ekonomi. Melalui uji coba ini, pemerintah daerah ingin memastikan produktivitas lahan meningkat sekaligus menciptakan nilai tambah nyata bagi pelaku usaha perkebunan dan peternakan.
Potensi ekonomi program ini sangat besar jika dibandingkan dengan kondisi populasi ternak saat ini. Berdasarkan data terbaru, populasi sapi di Riau baru mencapai 206.205 ekor, angka yang dinilai masih jauh dari kapasitas ideal lahan perkebunan sawit di provinsi tersebut.
“Populasi eksisting saat ini masih jauh di bawah potensi daya tampung lahan sawit kita yang bisa mencapai 500.000 ekor. Ini adalah peluang emas yang harus kita tangkap untuk meningkatkan populasi ternak nasional dari Riau,” tambah Mimi.
Dari sisi kualitas ternak, Riau dinilai memiliki modal kuat karena didukung oleh 195 petugas Inseminasi Buatan (IB) yang tersebar di seluruh kabupaten dan kota. Sistem pemeliharaan di kawasan perkebunan yang menggembalakan sapi betina serta melakukan pergantian pejantan secara berkala juga terbukti mampu mencegah inbreeding sehingga kualitas genetik tetap terjaga.
Keunggulan lain datang dari ketersediaan pakan alternatif berbasis limbah kelapa sawit. Material seperti solid, bungkil, hingga pelepah sawit dinilai ekonomis dan layak dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Integrasi ini tidak hanya menekan biaya produksi peternak, tetapi juga membantu perusahaan perkebunan mengelola limbah organik secara produktif.
Meski prospeknya menjanjikan, Mimi mengakui program integrasi ini masih menghadapi tantangan besar, terutama dalam koordinasi lintas sektor. Keterlibatan perusahaan perkebunan kelapa sawit skala besar dalam skema integrasi formal masih terbatas, sementara pengelolaan kolektif pekebun kecil membutuhkan pendampingan intensif agar manajemen klaster berjalan optimal.
Untuk memperkuat implementasi program, Dinas PKH Riau menjalin kolaborasi dengan berbagai perguruan tinggi dan lembaga riset, termasuk BRIN serta Wageningen University melalui forum ilmiah internasional. Dukungan akademisi dan tenaga lapangan diharapkan mampu mempercepat penyempurnaan model SISKA sebagai sistem ekonomi baru berbasis pertanian terpadu.***









