BERTUAHPOS – Eskalasi militer menyusul serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran sejak akhir Februari lalu kini memicu efek domino yang melumpuhkan stabilitas ekonomi di kawasan Teluk. Gangguan masif pada sektor energi, jalur perdagangan, hingga transportasi udara mulai mengancam pertumbuhan ekonomi global dan memicu lonjakan inflasi yang signifikan.
Krisis ini secara langsung mengguncang keseimbangan ekonomi regional dan meningkatkan ketidakpastian di berbagai sektor strategis, mulai dari energi, perdagangan, pariwisata hingga logistik.
Dampaknya kini mulai terasa secara global, terutama melalui tekanan terhadap inflasi akibat lonjakan harga energi dan meningkatnya risiko geopolitik yang tak terelakkan.
Kenaikan harga minyak yang dipicu eskalasi konflik serta aksi balasan Iran memberikan tekanan besar pada pasar energi dunia, sementara aktivitas pelayaran di Selat Hormuz yang hampir terhenti total memperparah kekhawatiran terhadap rantai distribusi energi global.
Kenaikan harga energi ini dinilai mendorong inflasi melalui tiga jalur utama, yakni peningkatan langsung biaya energi, kenaikan harga barang akibat beban biaya produksi, serta memburuknya ekspektasi inflasi karena ketidakpastian yang terus berlanjut.
Di sisi lain, meningkatnya ketegangan juga mendorong kenaikan premi risiko negara-negara Teluk dan memicu volatilitas tajam di pasar keuangan. Kondisi bursa saham di kawasan tersebut kini bergerak bervariasi; penurunan terbesar terjadi di Uni Emirat Arab, sementara bursa Oman, Irak, dan Arab Saudi mencatat kenaikan tipis di tengah merosotnya pasar Bahrain, Qatar, dan Kuwait.
Dampak paling telak terlihat dari penutupan Selat Hormuz yang melumpuhkan arus ekspor energi. Data menunjukkan penurunan lebih dari 60 persen ekspor minyak dari negara-negara Teluk sejak konflik dimulai. Penurunan pasokan sekitar 15 juta barel ini tercatat sebagai salah satu gangguan pasokan terbesar dalam sejarah modern.
Akibatnya, kerugian pendapatan minyak negara-negara Teluk dalam dua pekan terakhir diperkirakan telah mencapai 25 miliar dolar AS, dan angka tersebut berpotensi membengkak jika pendapatan dari LNG serta produk petrokimia turut dihitung.
Sektor pariwisata dan penerbangan juga tidak luput dari hantaman berat. Penutupan wilayah udara dan meningkatnya risiko keamanan menyebabkan gangguan besar dalam penerbangan global, di mana lebih dari 3.400 penerbangan dibatalkan hanya dalam 24 jam pertama konflik.
Hingga saat ini, pembatalan dan penundaan terus berlanjut, bahkan sejumlah maskapai penerbangan Eropa mulai mengurangi frekuensi hingga menghentikan operasional rute ke Timur Tengah secara keseluruhan.
Sentimen negatif ini merembet ke sektor properti, di mana penjualan perumahan di Dubai dilaporkan terjun bebas sekitar 25 persen sejak konflik meluas. Penurunan ini mencerminkan dampak langsung ketidakpastian geopolitik terhadap minat investasi, termasuk dari investor asing. Tercatat, indeks properti Dubai turun sekitar 26 persen, indeks properti Qatar melemah 7 persen, dan indeks pasar keuangan Dubai merosot hingga 15 persen sejak awal konflik.
Kondisi ini menempatkan negara-negara Teluk yang bergantung pada ekspor energi ke Asia dalam risiko besar. Selain menggerus pendapatan negara, situasi ini menekan model ekonomi berbasis tenaga kerja asing di kawasan tersebut.
Pengamat ekonomi dari Pusat Riset Kemitraan Publik-Swasta, Eyup Vural Aydin, memberikan peringatan keras terkait kerusakan iklim investasi di kawasan tersebut. “Konflik ini telah merusak iklim investasi di kawasan,” ujar Eyup Vural Aydin.
Aydin memperkirakan bahwa minat investor internasional terhadap negara-negara Teluk akan mengalami penurunan drastis dalam periode mendatang. Menurutnya, investor global memiliki kecenderungan kuat untuk memilih kawasan yang stabil dan memiliki kepastian jangka panjang.
Sehingga, meningkatnya ketidakpastian akibat konflik akan berdampak signifikan, terutama bagi negara seperti Uni Emirat Arab yang sangat bergantung pada arus modal internasional.
— Anadolu Ajanci —









