BERTUAHPOS — Industri pariwisata di Dubai (Uni Emirat Arab/UAE), dihadapkan pada tekanan serius setelah tingkat hunian hotel anjlok tajam hingga 16 persen pada Maret 2026 dari rata-rata normal sekitar 90 persen.
Kondisi ini disebabkan meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah, langsung memukul arus perjalanan internasional dan aktivitas wisata di sana.
Pelaku industri menyebut dampak dari konflik Timur Tengah langsung terasa. Suka tak suka, industri yang bergerak di sektor perhotelan di Dubai harus siap menghadapi musim sepi lebih cepat dari perkiraan mereka.
Chairman Fortune Group of Hotels, Praveen Shetty, menilai kondisi saat ini berbeda dibandingkan krisis sebelumnya. Menurutnya, pandemi COVID-19 memang berdampak global, namun konflik geopolitik menciptakan ketidakpastian yang lebih sulit diprediksi bagi sektor perjalanan.
“Ini berbeda. Saat COVID dampaknya global, tetapi konflik menciptakan ketidakpastian yang berbeda. Kami tidak memiliki wisatawan. Penerbangan terganggu dan banyak destinasi utama ditutup. Itu langsung memukul bisnis,” ujar Shetty.
Penurunan permintaan membuat tingkat operasional hotel jauh di bawah kapasitas normal. Shetty menyebut banyak hotel kini hanya berjalan sekitar 30 persen dari kapasitas biasa, meski periode ini biasanya menjadi musim ramai wisatawan.
Kondisi tersebut memaksa pelaku usaha melakukan berbagai langkah efisiensi, mulai dari menutup sebagian lantai hingga seluruh gedung hotel, memangkas biaya tenaga kerja, serta menawarkan diskon besar untuk menarik tamu yang tersisa.
Data Lighthouse Intelligence menunjukkan okupansi akomodasi di Dubai turun dari sekitar 90 persen menjadi 16 persen per 17 Maret 2026, sementara harga kamar untuk periode April hingga Mei ikut merosot lebih dari 11 persen dibandingkan sebelum konflik berlangsung.
Tekanan juga merambat ke sektor tenaga kerja perhotelan. Sejumlah karyawan dirumahkan sementara atau diminta mengambil cuti lebih awal sebagai upaya menekan biaya operasional di tengah minimnya tamu. Direktur Sunset Hospitality Group, Antonio Gonzalez, mengatakan perusahaan mulai melakukan penyesuaian operasional jangka pendek guna menjaga keberlanjutan bisnis.
“Kami melihat kebutuhan untuk melakukan pengurangan operasional sementara dan penyesuaian tenaga kerja jangka pendek,” ujarnya.
Dampak konflik turut diperparah oleh periode Ramadan yang secara historis membuat aktivitas konsumsi makanan dan minuman menurun, sehingga segmen restoran dan hiburan ikut terdampak.***









