BERTUAHPOS – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan tren negatif pada pembukaan perdagangan Jumat pagi, 13 Maret 2026.
Melansir data Bloomberg pukul 09.04 WIB di pasar spot exchange, mata uang Garuda melemah 25 poin atau setara 0,05 persen ke posisi Rp16.918 per dolar AS.
Pelemahan ini memperpanjang catatan minor setelah pada penutupan perdagangan Kamis (12/3) sebelumnya, rupiah juga terkoreksi tipis di level Rp16.893 per dolar AS.
Sentimen negatif yang menghantam rupiah kali ini bersumber dari eksternal, terutama lonjakan harga minyak mentah dunia yang telah menembus angka psikologis 100 dolar AS per barel.
Kondisi ini memicu alarm kewaspadaan pasar terhadap potensi pembengkakan inflasi jangka panjang yang dapat memaksa bank sentral dunia mengambil langkah moneter lebih ketat.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan pergerakan rupiah hari ini akan berlangsung fluktuatif namun cenderung ditutup melemah pada rentang Rp16.890 hingga Rp16.920 per dolar AS. Ia menegaskan bahwa kenaikan harga komoditas energi menjadi faktor utama yang menekan mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
“Harga minyak yang lebih tinggi membuat pasar sebagian besar waspada terhadap peningkatan inflasi jangka panjang. Hal ini pada gilirannya memicu kekhawatiran atas kebijakan bank sentral yang lebih agresif dalam beberapa bulan mendatang,” papar Ibrahim.
Lebih lanjut, Ibrahim menjelaskan bahwa pelaku pasar kini tengah mengalihkan fokus sepenuhnya pada rilis data indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE) bulan Januari yang dijadwalkan keluar pada Jumat ini. Data tersebut menjadi sangat krusial karena merupakan tolok ukur inflasi favorit Federal Reserve (The Fed) dalam menentukan arah suku bunga ke depan.
“Data tersebut merupakan tolok ukur inflasi pilihan The Fed dan kemungkinan akan menjadi faktor dalam ekspektasi inflasi jangka panjang,” tambah Ibrahim.
Meski tensi geopolitik sempat memberikan sedikit angin segar lewat sinyal berakhirnya konflik di Iran dari Presiden AS Donald Trump, hal tersebut belum cukup kuat untuk menopang posisi rupiah dari gempuran indeks dolar yang saat ini bertengger di level 99,69.***









