BERTUAHPOS — Sekali lagi, China membuka babak baru untuk masa depan pangan berkelanjutan. Tim peneliti dari Universitas Jiangnan di Wuxi berhasil mengembangkan jamur hasil rekayasa genetika yang kaya protein, bertekstur menyerupai daging, dan diproduksi dengan 70% lebih sedikit lahan dibandingkan peternakan konvensional. Inovasi ini dinilai berpotensi menjadi solusi nyata atas krisis pangan dan lingkungan global.
Dilansir dari Vietnam.vn, Rabu, 28 Januari 2026, Jamur baru tersebut dikembangkan dari spesies Fusarium venenatum, sumber mikoprotein yang telah lama dikenal memiliki rasa dan tekstur mirip daging. Dengan memanfaatkan teknologi pengeditan gen CRISPR, para peneliti menciptakan strain baru bernama FCPD, tanpa memasukkan DNA asing. Hasilnya, jamur ini memiliki dinding sel lebih tipis, lebih mudah dicerna, dan jauh lebih efisien dalam produksi protein.
Secara nutrisi, FCPD menunjukkan peningkatan signifikan. Analisis laboratorium mencatat kenaikan indeks asam amino esensial (EAAI) sebesar 32,9%, menjadikannya sumber protein nabati berkualitas tinggi. Selain itu, jamur ini mampu mengurangi konsumsi substrat hingga 44,3%, sekaligus meningkatkan produksi protein hampir 88,4% dibandingkan strain asli.
Profesor Xiao Lu, penulis utama studi ini, menegaskan bahwa terobosan tersebut tidak hanya soal peningkatan gizi. “Kami menciptakan jenis jamur yang lebih bergizi sekaligus jauh lebih ramah lingkungan melalui modifikasi genetik yang presisi,” ujarnya. Efisiensi produksi ini membuat FCPD unggul dalam siklus produksi pangan modern.
Konteks global membuat temuan ini semakin relevan. Populasi dunia diperkirakan mencapai 9,8 miliar pada 2050, sementara sektor peternakan menyumbang sekitar 14% emisi gas rumah kaca global dan menyerap lahan serta air dalam jumlah besar. Di tengah tekanan perubahan iklim dan keterbatasan sumber daya, protein mikroba dari jamur dan ragi mulai dilirik sebagai alternatif strategis.
Melalui penghapusan dua gen kunci—gen pembentuk kitin pada dinding sel dan gen yang mengatur metabolisme piruvat—para peneliti berhasil membuat jamur ini lebih mudah dicerna dan lebih hemat energi. Uji produksi menunjukkan FCPD membutuhkan 44% lebih sedikit gula untuk menghasilkan protein dalam jumlah yang sama dan mempersingkat waktu produksi secara drastis.
Dampak lingkungannya pun signifikan. Menurut salah satu peneliti, Xiaohui Wu, produksi FCPD mampu menurunkan emisi gas rumah kaca hingga 60%, baik diproduksi di Eropa maupun Asia. Di Tiongkok, penggunaan jamur ini sebagai pengganti daging ayam bahkan dapat menghemat hingga 70% lahan dan mengurangi risiko pencemaran air tawar sebesar 78%.
Jika diadopsi secara luas, jamur rekayasa genetika ini berpotensi mengubah sistem pangan global. Ia tidak hanya menawarkan alternatif daging yang lezat dan bergizi, tetapi juga menjawab tantangan besar ketahanan pangan, perubahan iklim, dan degradasi lingkungan. Inovasi seperti FCPD menandai pergeseran penting: dari pertanian berbasis eksploitasi sumber daya menuju produksi pangan cerdas dan berkelanjutan.***









