BERTUAHPOS — Kayu manis mulai menunjukkan peran penting sebagai sumber ekonomi baru yang potensial bagi Indonesia. Selama ini komoditas tersebut kurang mendapat sorotan dalam data pertumbuhan ekonomi sektor kehutanan, padahal kontribusinya terus meningkat.
Produksi kayu manis dalam beberapa tahun terakhir mencatat perkembangan signifikan dan mampu memberikan nilai ekonomi tinggi. Komoditas ini tidak hanya memiliki harga kuat di pasar domestik maupun internasional, tetapi juga membuka peluang usaha, meningkatkan pendapatan petani, serta memperkuat sektor agribisnis nasional.
Data Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian menunjukkan Provinsi Jambi, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara masih menjadi sentra utama penghasil kayu manis di Indonesia. Produksi dari wilayah tersebut terbukti mampu menguasai pasar dunia.
Kayu manis dari tiga provinsi itu tercatat menyumbang hingga 85 persen produksi kayu manis dunia, terutama jenis Cassia Vera yang sangat diminati pasar Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Asia. Stabilitas kualitas menjadi faktor utama tingginya kepercayaan pasar internasional.
Secara global, permintaan terhadap kayu manis Indonesia terus meningkat. Dengan luas areal mencapai 87.100 hektare pada 2022, Indonesia tetap menjadi salah satu produsen utama dunia. Meski luas lahan menurun dibandingkan 2016, produktivitas meningkat dari 1,2 ton menjadi 1,8 ton per hektare, menunjukkan efisiensi budidaya semakin baik.
Indonesia saat ini bersaing dengan Vietnam, Sri Lanka, dan China dalam perdagangan global kayu manis. Data OEC 2021 mencatat Vietnam sebagai eksportir terbesar dengan nilai 270 juta dolar AS, disusul Sri Lanka 175 juta dolar AS, Indonesia 172 juta dolar AS, serta China 162 juta dolar AS.
Untuk memperkuat posisi di pasar dunia, peningkatan kualitas produksi menjadi langkah strategis. Varietas unggul seperti Zeyna Agribun 01 dan 02 dari Balittro, BSIP Perkebunan Kementan dinilai mampu meningkatkan produktivitas dan kualitas minyak atsiri kayu manis.
Diversifikasi produk juga menjadi peluang besar. Pengembangan turunan produk seperti minyak atsiri, bubuk kayu manis premium, hingga produk kosmetik organik dinilai mampu membuka pasar bernilai tinggi dan menambah nilai ekonomi.
Selain bernilai ekonomi, kayu manis juga memiliki dampak lingkungan positif. Melalui sistem agroforestri, budidaya kayu manis membantu mencegah erosi, menjaga keanekaragaman hayati, dan mendukung penyerapan karbon.
Dengan inovasi budidaya, peningkatan kualitas, dan komitmen keberlanjutan, kayu manis dinilai berpotensi menjadi pilar ekonomi nasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain penting di pasar rempah global.***









