• Profil
  • Redaksi
  • Suara Anda
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Pedoman Media Siber
Minggu, November 1, 2026
SUBSCRIBE
BertuahPos
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi
No Result
View All Result
BertuahPos
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi

Greenpeace: 3 Menteri yang Harus Bertanggung Jawab Atas Bencana di Alam Sumatera

Melba Ferry Fadly by Melba Ferry Fadly
6 Desember 2025
Pemprov Riau membentuk Satuan Tugas atau Satgas Penanggulangan Bencana Hidrometeorologi.

Rumah terdampak bencana longsor (Foto: Ilustrasi Canva)

Share on FacebookShare on Twitter

BERTUAHPOS — Greenpeace menilai bencana banjir bandang dan longsor di Sumatera (Sumut, Sumbar, dan Aceh) terjadi akibat kelalaian kebijakan lingkungan pemerintah selama bertahun-tahun.

Bencana banjir bandang dan longsor yang melanda Provinsi Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh disebut Greenpeace Indonesia sebagai konsekuensi dari peringatan panjang yang diabaikan pemerintah. Organisasi lingkungan itu menegaskan bahwa kerusakan ekologis di Sumatera sudah diprediksi sejak satu dekade lalu, namun kebijakan tidak berpihak pada perlindungan lingkungan.

Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia, Iqbal Damanik, mengatakan para ahli sejak lama memperingatkan risiko meningkatnya bencana akibat perubahan iklim dan degradasi hutan. “Greenpeace sudah pernah mengingatkan, tapi tidak didengar,” ujar Iqbal melalui kanal YouTube Abraham Samad, sebagaimana dilihat Bertuahpos, Sabtu, 6 Desember 2025.

Menurutnya, ada dua faktor besar yang memicu bencana kali ini. Pertama, cuaca ekstrem yang kerap dijadikan alasan resmi pemerintah. Kedua, kondisi ekologis yang disebutnya sudah rusak akibat pemberian izin yang tidak mempertimbangkan daya dukung lingkungan. Ia menilai kebijakan lebih mengutamakan kepentingan ekonomi dan politik.

Iqbal juga menyoroti temuan kayu gelondongan di lokasi bencana. Klaim Kementerian Kehutanan bahwa kayu tersebut hanya kayu lapuk dinilai tidak sesuai kondisi lapangan. “Bukti pandangan mata menunjukkan itu kayu yang sudah digergaji,” tegasnya, mengindikasikan adanya praktik pembalakan liar di kawasan terdampak.

Ia menegaskan tragedi ini bukan sekadar fenomena alam atau takdir. Dalam analisanya, ada tiga menteri yang patut dimintai pertanggungjawaban. Mereka adalah Menteri ATR/Kehutanan Raja Juli Antoni yang berwenang dalam izin dan pengawasan kawasan hutan, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia yang menerbitkan izin tambang dan pemanfaatan hutan, serta Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Hanif Faisol sebagai pihak yang mengesahkan izin AMDAL.

“Ketika ada bencana seperti ini, berarti ada fungsi mereka yang tidak bekerja. Apakah fungsi pengawasan atau pengendalian. Atau mereka melakukan pembiaran. Pembiaran dalam administrasi itu sebuah kesalahan. Pura-pura tidak tahu,” ujarnya.

Greenpeace menilai langkah hukum terhadap para pengambil kebijakan bukan hal yang mustahil. Iqbal menyebut korban bencana bisa mengajukan gugatan, baik melalui mekanisme nasional maupun internasional. “Ini sangat mungkin diajukan untuk meminta pertanggungjawaban. Masyarakat yang menjadi korban juga dapat menuntut ganti rugi,” katanya.

Dengan kritik tersebut, Greenpeace menegaskan bahwa bencana di Sumatera merupakan cerminan dari lemahnya pengelolaan lingkungan dan kegagalan pemerintah menjaga keseimbangan ekologis.***

Tags: Bencana alamlingkungan
Share3Tweet2Send
Follow Berita BertuahPos di Google News

Melba Ferry Fadly

Melba Ferry Fadly

Jurnalis di Bertuahpos.com

Berita Terkait

Ini Penjelasan Ahli Mengapa Karhutla di Lahan Gambut Sulit Dipadamkan
Berita Pilihan

Ini Penjelasan Ahli Mengapa Karhutla di Lahan Gambut Sulit Dipadamkan

...

Read moreDetails
Listrik Tersedia, Alam Terjaga, Melihat Lebih Dekat Biodiversity Safeguard di Lanskap Koto Panjang

Listrik Tersedia, Alam Terjaga, Melihat Lebih Dekat Biodiversity Safeguard di Lanskap Koto Panjang

Bukan Hujan, Ini Penyebab Banjir Bandang Maut di Perbatasan Nepal-China

Bukan Hujan, Ini Penyebab Banjir Bandang Maut di Perbatasan Nepal-China

Jikalahari Kritik Kunjungan Perdana Prabowo ke Riau, Dinilai Cuma Pindah Lokasi Rapat

Jikalahari Kritik Kunjungan Perdana Prabowo ke Riau, Dinilai Cuma Pindah Lokasi Rapat

111 Tersangka Karhutla di Riau, Jikalahari Pertanyakan: Korporasinya Mana?

111 Tersangka Karhutla di Riau, Jikalahari Pertanyakan: Korporasinya Mana?

Plt Gubri Sebut Sumbang Rp1 Miliar untuk Bencana Gempa NTT Bukan soal Nominal Angkanya

Plt Gubri Sebut Sumbang Rp1 Miliar untuk Bencana Gempa NTT Bukan soal Nominal Angkanya

Next Post
KLH: Hilangnya Ribuan Hektare Tutupan Hutan Perparah Banjir dan Longsor di Sumatera

KLH: Hilangnya Ribuan Hektare Tutupan Hutan Perparah Banjir dan Longsor di Sumatera

Show Transparency Report
  • Profil
  • Redaksi
  • Suara Anda
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Pedoman Media Siber

© 2013-2025 BertuahPos.com.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi

© 2013-2025 BertuahPos.com.