BERTUAHPOS — Kontrak berjangka minyak sawit mentah (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives bergerak mendatar (sideways) pada pekan ini.
Pergerakan datar ini terjadi karena pelaku pasar menunggu rilis proyeksi ekspor terbaru yang diperkirakan dapat mempengaruhi arah harga dalam waktu dekat.
Pedagang minyak sawit David Ng mengatakan bahwa data surveyor kargo yang akan dirilis kemungkinan memberi sinyal lebih jelas terkait sentimen pasar.
Ia menilai laporan tersebut berpotensi menentukan tren harga CPO untuk pekan mendatang, dilansir dari Bernama.
David Ng memperkirakan harga CPO akan bergerak dalam rentang RM4.050 hingga RM4.250 per ton dalam jangka pendek. Menurutnya, pasar masih mencari katalis yang dapat mendorong harga keluar dari pergerakan sideways.
Secara mingguan, beberapa kontrak berjangka menunjukkan kenaikan tipis. Kontrak Desember 2025 naik RM18 menjadi RM4.100 per ton, sementara kontrak Januari 2026 naik RM19 ke posisi RM4.128 per ton.
Kontrak Februari 2026 juga menguat RM8 menjadi RM4.145 per ton, disusul Maret 2026 yang naik RM2 ke level RM4.159 per ton.
Namun tidak semua kontrak bergerak naik. Kontrak November 2025 justru turun tajam RM145 menjadi RM3.935 per ton. Kontrak April 2026 ikut melemah tipis RM1 ke RM4.167 per ton, mencerminkan tekanan harga di bulan-bulan tertentu.
Volume perdagangan mingguan tercatat turun signifikan menjadi 402.878 lot, dibandingkan 487.131 lot pada pekan sebelumnya. Meski demikian, open interest justru naik ke 269.476 kontrak, dari sebelumnya 264.821 kontrak, menandakan minat pasar masih bertahan.
Di pasar fisik, harga CPO untuk wilayah Selatan pada November 2025 turun RM40 menjadi RM4.080 per ton. Penurunan ini memperlihatkan tekanan permintaan yang masih membayangi pasar.
Secara keseluruhan, analis menilai pergerakan sideways ini mencerminkan fase konsolidasi pasar menjelang rilis data ekspor dan produksi. Jika laporan menunjukkan peningkatan permintaan global, harga CPO berpotensi keluar dari tekanan dan kembali menguat dalam beberapa pekan ke depan.***









