“Energi panas bumi adalah harta karun dari perut bumi. Jika dimanfaatkan optimal, energi ini dapat menjawab kebutuhan energi sekaligus meningkatkan kesejahteraan bangsa.”
BERTUAHPOS – Indonesia menyimpan potensi energi panas bumi sekitar 24 gigawatt (GW), namun pemanfaatannya baru mencapai 2,5 GW.
Dengan cadangan sebesar itu, Indonesia berada di peringkat kedua dunia, tetapi pemanfaatan masih tertinggal jauh dari potensinya.
Hal ini disampaikan oleh Suyanto, Perekayasa Ahli Madya Pusat Riset Teknologi Konversi Energi BRIN, dalam program Kelas Periset edisi ke-7 yang digelar daring melalui kanal YouTube BRIN Indonesia, Rabu, 24 September 2025.
Suyanto menjelaskan, panas bumi berasal dari panas di dalam kerak bumi akibat magma, radioaktivitas, dan pergerakan tektonik dengan suhu inti bumi yang diperkirakan mencapai 6.000 °C.
Manifestasi energi ini bisa ditemui dalam fenomena alam seperti tanah beruap, kolam lumpur panas, geyser, hingga pemandian air panas alami.
Menurutnya, panas bumi tidak hanya dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik, tetapi juga bisa digunakan secara langsung (direct use).
Teknologi ini dapat diaplikasikan untuk mengeringkan hasil pertanian, mengolah kopi, hingga memproduksi kopra.
Sayangnya, pemanfaatan non-listrik di Indonesia masih terbatas dan umumnya hanya untuk wisata pemandian air panas.
“Pemanfaatan panas bumi mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terutama di daerah pedesaan dengan akses energi terbatas,” tegas Suyanto.
BRIN sendiri telah melakukan riset panas bumi sejak 1990-an. Berbagai penelitian telah melahirkan inovasi, mulai dari proyek percontohan bersama pemerintah Prancis, pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) skala kecil, studi korosi turbin, hingga pemanfaatan uap panas bumi untuk pengeringan hasil pertanian.
Meski begitu, pengembangan energi panas bumi menghadapi tantangan. Risiko kegagalan eksplorasi akibat minimnya data geologi, kebutuhan investasi tinggi, serta lokasi cadangan yang sebagian berada di kawasan hutan lindung menjadi hambatan utama.
“Namun peluang pengembangan sangat besar. Indonesia membutuhkan sumber daya manusia terampil yang mampu menghadirkan solusi energi hijau. Dengan cadangan melimpah, Indonesia berpotensi menjadi pionir energi bersih di Asia Tenggara,” kata Suyanto.
Ia menegaskan, riset dan inovasi harus terus diperkuat agar panas bumi bisa berkontribusi pada ketahanan energi nasional sekaligus memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
“Energi panas bumi adalah harta karun dari perut bumi. Jika dimanfaatkan optimal, energi ini dapat menjawab kebutuhan energi sekaligus meningkatkan kesejahteraan bangsa,” ujarnya.***









