DAKWAH adalah jantung peradaban Islam. Ia bukan sekadar ajakan ibadah, tapi jalan membangun masyarakat yang adil dan bermartabat.
Sejarah menunjukkan, para nabi membangkitkan umat melalui dakwah yang menata hidup manusia dengan nilai langit, lalu diterapkan dalam realitas sosial.
Karena itu, dakwah harus menjadi “panglima”, sementara politik (siyasah) hanyalah strategi.
Politik dalam Islam bukan sekadar perebutan kekuasaan, melainkan pengelolaan umat menuju ridha Allah. Imam al-Mawardi menegaskan: “Tujuan kepemimpinan adalah menjaga agama dan mengatur dunia dengan syariat.”
Politik Islami wajib berdiri di atas maslahat dan keadilan. Kata Imam al-Ghazali, agama adalah fondasi, dan kekuasaan adalah penjaganya.
Artinya, politik hanya bermanfaat jika ia menjaga agama, dan agama butuh politik agar nyata dalam kehidupan.
Kekuasaan bukan untuk gengsi kelompok, tetapi sarana mewujudkan maqāṣid syarī‘ah: menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta.
Namun, semua itu tak mungkin tercapai tanpa tarbiyah. Jiwa harus dibina sebelum membangun struktur. Kader harus ditempa dalam iman, ilmu, dan akhlak sebelum mengusung kekuasaan.
Politik tanpa tarbiyah hanya melahirkan perebutan kursi, sementara dakwah yang bertumpu pada tarbiyah melahirkan pemimpin Rabbani.
Peradaban Islam sejatinya bukan sekadar simbol politik, tapi terwujudnya masyarakat Rabbani: berilmu, adil, dan saling menolong dalam amar ma’ruf nahi munkar.
Allah berjanji:
“Allah akan menjadikan orang-orang beriman dan beramal saleh berkuasa di bumi…” (QS. an-Nur: 55)
Janji Allah bukan sekadar kursi kekuasaan, melainkan tegaknya nilai-Nya di muka bumi. Inilah hakikat dakwah dan politik Islam: membangun peradaban menuju ridha Allah.***
Penulis: Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab | Seluruh materi dalam artikel ini murni disusun dan menjadi tanggung jawab penulis.









