BERTUAHPOS — Harga minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia melemah pada perdagangan Rabu, 3 September 2025. Sehari sebelumnya, pada Selasa, 2 September, harganya naik tajam.
Analis pasar menyebut pelemahan ini dipicu aksi ambil untung (profit taking) investor. Selain itu, ada tekanan dari harga minyak nabati lain yang juga turun.
Menurut data Bloomberg, kontrak CPO untuk pengiriman November 2025 ditutup di posisi MYR 4.442 per ton. Turun 0,76% dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Sehari sebelumnya, harga CPO sempat naik 2,19% dan dalam tiga hari perdagangan masih menguat 1%. Sepanjang sebulan terakhir, harga komoditas ini tercatat melonjak hampir 4% secara point-to-point.
Analis menilai, setelah reli signifikan, investor cenderung mencairkan keuntungan. Potensi cuan sudah cukup tinggi, wajar jika ada aksi ambil untung.
Selain faktor profit taking, pelemahan harga minyak nabati lain turut menekan harga CPO. Di Chicago Board of Trade, harga minyak kedelai anjlok 1%, sementara harga minyak rapeseed turun 0,16%.
Penurunan komoditas pesaing membuat daya saing CPO berkurang karena fungsi substitusi di pasar global.
Nilai tukar ringgit Malaysia yang menguat 0,07% terhadap dolar AS juga menjadi faktor tambahan. Kuatnya ringgit membuat kontrak CPO lebih mahal bagi investor asing yang memegang mata uang lain.
Dilansir dari Bloomberg Technoz, secara teknikal, harga CPO masih berada di zona bullish dengan Relative Strength Index (RSI) di level 52. Namun, posisi yang tipis di atas zona netral menandakan potensi harga masih bisa berbalik arah. Indikator Stochastic RSI di level 21 juga menunjukkan kondisi mendekati oversold.
Untuk perdagangan hari ini, harga CPO diperkirakan masih berisiko melemah dengan target support di MYR 4.393 per ton. Jika level ini tembus, maka harga berpotensi jatuh hingga MYR 4.377 per ton.
Sebaliknya, jika harga mampu menembus resistensi MYR 4.448 per ton, maka peluang penguatan menuju MYR 4.480–4.496 per ton terbuka lebar.***
Harga CPO hari ini









