BERTUAHPOS — Di Jalan Kaharuddin Nasution, tak jauh dari kampus Universitas Islam Riau (UIR) Pekanbaru, aroma gurih bubur ayam khas Bandung kini menjadi daya tarik tersendiri bagi warga sekitar. Di balik racikan sederhana itu, tersimpan kisah perjuangan Adhan, seorang pria asal Jawa Barat yang merantau ke Pekanbaru pada tahun 2023 dengan harapan mendapatkan kehidupan lebih baik. Namun, perjalanan hidupnya tidak semulus yang dibayangkan.
Adhan awalnya datang ke Pekanbaru untuk bekerja di sebuah perusahaan. Sayangnya, pada akhir tahun yang sama, tempat kerjanya harus gulung tikar. Kondisi itu membuatnya kehilangan pekerjaan dan harus mencari cara baru untuk tetap bertahan hidup di tanah rantau.
“Saya sempat bingung mau kerja apa, karena tabungan pun mulai menipis,” kata Adhan kepada Bertuahpos, Selasa 26 Agustus 2025.
Pada tahun 2024, Adhan memberanikan diri mencoba peruntungan baru. Ia memilih berjualan bubur ayam khas Bandung, makanan yang sejak kecil sering dia lihat ibunya buat. Dengan modal nekat dan ilmu yang dipelajari dari sang ibu serta tambahan resep yang ia pelajari secara otodidak melalui YouTube, Adhan mulai meracik bubur ayam kreasinya sendiri.
Awal mula berjualan tidaklah mudah. Adhan bercerita, di hari pertama ia membawa 20 porsi bubur ayam, namun hanya berhasil menjual lima porsi saja. Situasi ini membuatnya hampir putus asa. “Saya sempat ingin berhenti, karena modal makin tipis, tapi saya ingat keluarga dan anak saya di rumah,” ujarnya.
Tidak menyerah, Adhan kemudian mencoba strategi baru. Ia mulai mencari titik keramaian yang banyak dilalui warga, seperti sekitar Jalan Parit Indah. Perlahan, usaha tersebut membuahkan hasil. Dari yang awalnya hanya laku lima porsi, kini ia bisa menjual 30 hingga 50 porsi setiap harinya.
Bubur ayam buatan Adhan memiliki cita rasa khas Bandung dengan tambahan topping yang melimpah, mulai dari suwiran ayam, cakwe, kacang kedelai goreng, hingga bawang goreng yang gurih. Dengan harga Rp10 ribu per porsi, bubur ayam ini pun terjangkau bagi semua kalangan. Tak heran, dagangannya kian hari semakin diminati.
Selain menjajakan cita rasa otentik, Adhan juga menjaga kualitas dan kebersihan dagangannya. Hal inilah yang membuat pelanggannya merasa nyaman dan terus kembali membeli. “Saya selalu ingin pembeli puas. Kalau mereka suka, saya pun ikut senang,” tutur Adhan.
Kini, dari hasil berjualan bubur ayam, Adhan mampu menghidupi istri dan anaknya. Meski sederhana, usaha ini menjadi sumber penghasilan yang bisa diandalkan. “Alhamdulillah, sekarang bisa lebih tenang. Setidaknya kebutuhan keluarga bisa terpenuhi,” ucapnya penuh syukur.
Kisah Adhan menjadi contoh nyata bahwa kegigihan dan kerja keras bisa membuka jalan di tengah keterpurukan. Dari bubur ayam yang ia jajakan setiap pagi di Jalan Kaharuddin Nasution,ia membuktikan bahwa kesempatan selalu ada bagi mereka yang tidak menyerah.***









