BERTUAHPOS — Lahan gambut merupakan salah satu penyumbang emisi karbon terbesar. Makanya, gambut perlu dikelola dengan baik dan benar agar fungsinya sejalan, kata Periset Pusat Riset Hortikultura BRIN, Fahmuddin Agus.
Perlu perhitungan akurat terhadap emisi dari dekomposisi tanah maupun kebakaran guna mendukung inventarisasi nasional dan target iklim FOLU Net Sink 2030.
Dia mengatakan, penting memisahkan respirasi heterotrofik dari total fluks CO₂ dalam pelaporan emisi agar data benar-benar mencerminkan kontribusi dekomposisi gambut.
Tinggi muka air tanah (groundwater level/GWL) memiliki hubungan kuat dengan emisi karbon. Berdasarkan kajian Deshmukh dan Hirano, perubahan GWL 1 cm dapat memengaruhi emisi hingga hampir 1 ton CO₂ per hektare per tahun.
Simulasi menunjukkan peningkatan GWL 20 cm pada dua juta hektare lahan sawit gambut berpotensi menurunkan emisi hingga 26 juta ton CO₂ per tahun, “namun efektivitasnya bergantung pada desain dan kepadatan kanal,” ujarnya dalam sebuah workshop akhir Juli lalu.
Penggunaan metodologi Tier 3 dalam pelaporan emisi gas rumah kaca dengan faktor emisi berbasis data lokal seperti kondisi tanah, kedalaman gambut, dan intervensi kanal perlu dilakukan dengan cermat.
Selain itu, perlu juga publikasi ilmiah nasional agar faktor emisi Indonesia diakui dalam Emission Factor Database (EFDB) IPCC dan restorasi gambut harus melibatkan masyarakat lokal, menurut Periset Pusat Riset Ekologi BRIN, Luthfan M. Nugraha.
“Restorasi tidak akan berhasil tanpa peningkatan taraf hidup masyarakat. Kami ingin membangun sistem sosial-ekologis yang tahan iklim dan andiri,” kata Luthfan.***
Luas Lahan Gambut Riau
- Luas lahan gambut di Provinsi Riau mencapai 5,09 juta hektare atau 56,42% dari total lahan gambut di Pulau Sumatera. Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DISLHK) Riau, kawasan ini menyimpan potensi karbon mencapai 14.605 juta ton.
- Lahan gambut di Riau menjadi fokus perhatian karena perannya yang vital dalam penyimpanan karbon global. Potensi ini menjadikan Riau sebagai wilayah strategis dalam upaya mitigasi perubahan iklim sekaligus pengelolaan lingkungan berkelanjutan. Namun tantangan besar yang kini dihadapi yakni kebakaran hutan dan lahan atau Karhutla, yang mana sebagian besar lahan terbakar berada di lahan gambut.









