BERTUAHPOS — Para pedagang kaki lima di Kota Pekanbaru mulai mengeluhkan penurunan omset penjualan dalam beberapa bulan terakhir. Mereka menilai situasi ini terjadi karena daya beli masyarakat yang melemah serta banyaknya pemutusan hubungan kerja (PHK) yang mendorong masyarakat beralih menjadi pedagang. Akibatnya, jumlah penjual meningkat, sementara pembeli justru semakin sedikit.
Sulianto, salah satu pedagang cilok pedas yang biasa mangkal di Jalan Hangtuah simpang Jalan Sialang Bungkuk, mengaku penghasilannya kini hanya setengah dari tahun lalu. “Tahun lalu saya masih bisa bawa pulang Rp300 ribu per hari. Sekarang, mau dapat Rp150 ribu saja susah,” ujarnya kepada Bertuahpos. Menurutnya, kondisi ini belum pernah terjadi sejak ia mulai berjualan tahun 2022 lalu.
Tak jauh berbeda, Nur Halimah, pedagang bakso bakar yang berjualan di Jalan Imam Munandar, tepatnya di depan Alam Mayang Pekanbaru, juga merasakan hal yang sama. Ia menduga peningkatan jumlah pedagang kaki lima saat ini tidak lepas dari maraknya PHK yang terjadi di beberapa sektor pekerjaan.
“Banyak yang dulunya kerja di kantor atau pabrik, sekarang jadi pedagang. Jadi yang jualan makin banyak, tapi pembelinya tetap atau bahkan makin sedikit,” keluhnya.
Halimah mengaku, biasanya saat akhir pekan atau libur sekolah, dagangannya bisa cepat habis. Namun saat ini, meski sudah berjualan dari pagi hingga malam, dagangannya kerap tersisa. “Kami bukan cuma bersaing harga, tapi juga bersaing nasib,” ujarnya lirih.
Sementara itu, Ridho, pedagang roti bakar yang mangkal di Jalan Bukit Barisan sejak 2018, menyebut tahun ini sebagai masa terburuk dalam hal penjualan. “Tahun-tahun awal pandemi dulu memang susah, karena pembatasan. Tapi sekarang sudah normal, tidak ada wabah, harusnya omset kembali. Tapi kenyataannya malah makin sepi,” katanya.
Ridho mengatakan, penghasilan hariannya yang biasa mencapai Rp400.000 ribu kini hanya sekitar Rp200.000 ribu, bahkan kurang. “Kalau cuma turun sedikit mungkin masih bisa kami akali. Tapi ini penurunan paling signifikan. Sudah hemat-hemat bahan, tetap gak bisa kejar target harian,” ujarnya.
Fenomena ini menandakan bahwa perputaran ekonomi di sektor informal sedang mengalami tekanan cukup berat. Banyaknya masyarakat yang beralih ke sektor ini, akibat kehilangan pekerjaan tetap, menimbulkan kondisi pasar yang jenuh. Kompetisi antar pedagang semakin tinggi, sedangkan daya beli masyarakat tidak sebanding dengan jumlah penjual.
Beberapa pedagang berharap adanya perhatian dari pemerintah, khususnya dalam bentuk pelatihan usaha, bantuan modal, atau program subsidi bahan baku. “Minimal ada yang bantu kami supaya bisa tetap bertahan, karena sekarang susah sekali cari pembeli,” ungkap Halimah.
Mereka juga berharap situasi lapangan kerja kembali membaik, sehingga banyak masyarakat bisa kembali bekerja dan aktivitas ekonomi kembali stabil. “Kalau orang sudah kerja, mereka akan belanja. Kalau semuanya jualan, siapa yang beli?” tutur Ridho.
Kondisi ini menjadi cerminan bahwa pasca pandemi, tantangan ekonomi belum benar-benar pulih. PHK dan tekanan ekonomi membuat sektor informal menjadi pelarian banyak orang, tapi tidak semua bisa bertahan dengan kondisi pasar yang sudah terlalu padat dan persaingan yang ketat.***









