• Profil
  • Redaksi
  • Suara Anda
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Pedoman Media Siber
Jumat, Oktober 23, 2026
SUBSCRIBE
BertuahPos
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi
No Result
View All Result
BertuahPos
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi

Pedagang Kaki Lima di Pekanbaru Keluhkan Penurunan Omzet

Melba Ferry Fadly by Melba Ferry Fadly
8 Juli 2025
Waspada Beli Takjil di Pasar Ramadan, Pedagang Jangan Macam-macam

Pedadang kaki lima | Foto: Ilustrasi.

Share on FacebookShare on Twitter

BERTUAHPOS — Para pedagang kaki lima di Kota Pekanbaru mulai mengeluhkan penurunan omset penjualan dalam beberapa bulan terakhir. Mereka menilai situasi ini terjadi karena daya beli masyarakat yang melemah serta banyaknya pemutusan hubungan kerja (PHK) yang mendorong masyarakat beralih menjadi pedagang. Akibatnya, jumlah penjual meningkat, sementara pembeli justru semakin sedikit.

Sulianto, salah satu pedagang cilok pedas yang biasa mangkal di Jalan Hangtuah simpang Jalan Sialang Bungkuk, mengaku penghasilannya kini hanya setengah dari tahun lalu. “Tahun lalu saya masih bisa bawa pulang Rp300 ribu per hari. Sekarang, mau dapat Rp150 ribu saja susah,” ujarnya kepada Bertuahpos. Menurutnya, kondisi ini belum pernah terjadi sejak ia mulai berjualan tahun 2022 lalu.

Tak jauh berbeda, Nur Halimah, pedagang bakso bakar yang berjualan di Jalan Imam Munandar, tepatnya di depan Alam Mayang Pekanbaru, juga merasakan hal yang sama. Ia menduga peningkatan jumlah pedagang kaki lima saat ini tidak lepas dari maraknya PHK yang terjadi di beberapa sektor pekerjaan. 

“Banyak yang dulunya kerja di kantor atau pabrik, sekarang jadi pedagang. Jadi yang jualan makin banyak, tapi pembelinya tetap atau bahkan makin sedikit,” keluhnya.

Halimah mengaku, biasanya saat akhir pekan atau libur sekolah, dagangannya bisa cepat habis. Namun saat ini, meski sudah berjualan dari pagi hingga malam, dagangannya kerap tersisa. “Kami bukan cuma bersaing harga, tapi juga bersaing nasib,” ujarnya lirih.

Sementara itu, Ridho, pedagang roti bakar yang mangkal di Jalan Bukit Barisan sejak 2018, menyebut tahun ini sebagai masa terburuk dalam hal penjualan. “Tahun-tahun awal pandemi dulu memang susah, karena pembatasan. Tapi sekarang sudah normal, tidak ada wabah, harusnya omset kembali. Tapi kenyataannya malah makin sepi,” katanya.

Ridho mengatakan, penghasilan hariannya yang biasa mencapai Rp400.000 ribu kini hanya sekitar Rp200.000 ribu, bahkan kurang. “Kalau cuma turun sedikit mungkin masih bisa kami akali. Tapi ini penurunan paling signifikan. Sudah hemat-hemat bahan, tetap gak bisa kejar target harian,” ujarnya.

Fenomena ini menandakan bahwa perputaran ekonomi di sektor informal sedang mengalami tekanan cukup berat. Banyaknya masyarakat yang beralih ke sektor ini, akibat kehilangan pekerjaan tetap, menimbulkan kondisi pasar yang jenuh. Kompetisi antar pedagang semakin tinggi, sedangkan daya beli masyarakat tidak sebanding dengan jumlah penjual.

Beberapa pedagang berharap adanya perhatian dari pemerintah, khususnya dalam bentuk pelatihan usaha, bantuan modal, atau program subsidi bahan baku. “Minimal ada yang bantu kami supaya bisa tetap bertahan, karena sekarang susah sekali cari pembeli,” ungkap Halimah.

Mereka juga berharap situasi lapangan kerja kembali membaik, sehingga banyak masyarakat bisa kembali bekerja dan aktivitas ekonomi kembali stabil. “Kalau orang sudah kerja, mereka akan belanja. Kalau semuanya jualan, siapa yang beli?” tutur Ridho.

Kondisi ini menjadi cerminan bahwa pasca pandemi, tantangan ekonomi belum benar-benar pulih. PHK dan tekanan ekonomi membuat sektor informal menjadi pelarian banyak orang, tapi tidak semua bisa bertahan dengan kondisi pasar yang sudah terlalu padat dan persaingan yang ketat.***

Reporter: Habibie
Tags: Berita UMKM
Share3Tweet2Send
Follow Berita BertuahPos di Google News

Melba Ferry Fadly

Melba Ferry Fadly

Jurnalis di Bertuahpos.com

Berita Terkait

Rahasia Promosi Digital Biar Untung, Cara Pasang Iklan Meta dan TikTok Tanpa Tekor, UMKM Wajib Tahu
Berita Pilihan

Rahasia Digital Marketing Biar Untung, Cara Pasang Iklan Meta dan TikTok Tanpa Tekor, UMKM Wajib Tahu

...

Read moreDetails
Kisah Nelayan Kokang di Betuah Laundry

Kisah Nelayan Kokang di Betuah Laundry: Canggung, Tapi Bikin Untung!

IK Berkah Bintan, Dari Rumah Produksi Sederhana Jadi Penggerak UMKM Kerupuk Olahan Ikan Tamban

IK Berkah, Dari Rumah Produksi Sederhana Jadi Penggerak UMKM Kerupuk Olahan Ikan Tamban

Kehadiran All-New Mitsubishi Destinator Dapat Sambutan Hangat saat Peluncuran di Pekanbaru

Kehadiran All-New Mitsubishi Destinator Dapat Sambutan Hangat saat Peluncuran di Pekanbaru

Ini 2 Kunci Jika Pemda Ingin UMKM Lokal Unggul

Ini 2 Kunci Jika Pemda Ingin UMKM Lokal Unggul

Pemerintah Sebut Sektor UMKM Belum Terdampak Kebijakan Tarif Impor Trump

Pemerintah Sebut Sektor UMKM Belum Terdampak Kebijakan Tarif Impor Trump

Next Post

BUPATI KUANSING TEMUI MENTERI KEBUDAYAAN RI: PACU JALUR SIAP DIPERJUANGKAN JADI WARISAN BUDAYA DUNIA

Show Transparency Report
  • Profil
  • Redaksi
  • Suara Anda
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Pedoman Media Siber

© 2013-2025 BertuahPos.com.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi

© 2013-2025 BertuahPos.com.