• Profil
  • Redaksi
  • Suara Anda
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Pedoman Media Siber
Rabu, Oktober 28, 2026
SUBSCRIBE
BertuahPos
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi
No Result
View All Result
BertuahPos
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi

Kata Pakar Vaksin Prof. Amin Soebandrio Mengapa Bayi Harus Diimunisasi? 

Melba Ferry Fadly by Melba Ferry Fadly
15 Juni 2025
Kata Pakar Vaksin Prof. Amin Soebandrio Mengapa Bayi Harus Diimunisasi? 

Prof Amin Soebandrio, pakar dan peneliti vaksin dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI)

Share on FacebookShare on Twitter

BERTUAHPOS — Mengapa bayi harus diimunisasi? Vaksinasi menjadi salah satu langkah paling efektif dalam membangun kekebalan tubuh. “Terutama dalam mencegah penyebaran penyakit menular secara luas,” kata pakar dan peneliti vaksin dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Prof Amin Soebandrio.

Dalam pelatihan yang membahas “Penguatan Kesadaran Publik tentang imunisasi” di Hotel Erian, Jakarta Pusat, pada Jumat, 13 Juni 2025, dia menjelaskan saat seseorang terinfeksi suatu virus, tubuh secara alami akan membentuk antibodi sebagai respons perlindungan. Jika terjadi paparan ulang, tubuh akan bereaksi lebih cepat karena sudah mengenal virus tersebut.

“Proteksi yang muncul secara alami itu bisa kuat, tapi kita tidak pernah tahu seberapa parah gejala saat paparan pertama,” ungkapnya. Oleh sebab itu, vaksinasi berperan sebagai simulasi infeksi pertama yang lebih aman. Dengan kata lain, respon pertama yang tidak bisa diprediksi itu, akhirnya dibuat secara artifisial melalui vaksin. “Ini bertujuan agar tubuh sudah siap saat terpapar virus sesungguhnya.”

Prof Amin menegaskan, imunisasi pada bayi bertujuan membangun proteksi individu sejak dini, sehingga terhindar dari infeksi berat. Namun, ia mengingatkan bahwa perlindungan individu saja tidak cukup jika lingkungan sekitar juga tidak memiliki kekebalan.

Misalnya, dalam suatu populasi (kelompok) ada satu yang sakit dan lainnya tidak punya kekebalan, maka virus akan mudah menyebar. Orang yang terinfeksi belum tentu langsung sakit. “Tapi dia jadi pembawa virus dan menularkannya ke keluarga di rumah, atau ke orang di sekitarnya,” ujar Prof. Amin.

Sebagai contoh, ia menyebutkan penyakit cacar yang memiliki indeks penularan tinggi. “Satu orang bisa menularkan ke 10 orang. Bayangkan jika itu terjadi tiap dua hari. Ini yang harus kita potong rantainya,” katanya.

Prof. Amin mengungkapkan, kekebalan kelompok hanya bisa dicapai jika sebagian besar populasi memiliki imunitas. Cara mencapainya bisa melalui infeksi alami, pemberian ASI, dan vaksinasi/imunisasi.

Namun, pendekatan kekebalan alami dinilai tidak efektif karena tingginya risiko. Dalam kasus ini, kata dia, beberapa negara sempat mencoba cara membiarkan orang terpapar penyakit untuk membentuk imunitas alami. “Tapi faktanya, korban jiwa terlalu banyak. Risiko seperti ini tidak sebanding,” ujarnya.

Untuk itu, vaksinasi menjadi solusi yang lebih aman dan terkontrol. Ia juga menyoroti tiga tantangan dalam pelaksanaan vaksinasi, yakni Sediaan atau asal atau sumber vaksin itu; lalu ketersediaan, merupakan jenis vaksin yang tersedia dan; Kesediaan, atau kemauan orang untuk divaksin.

“Kesediaan ini yang paling penting. Harus ada advokasi yang kuat ke masyarakat agar penolakan terhadap vaksin bisa ditekan,” sebut anggota Ikatan Ahli Kesehatan Indonesia (IKAGI).

Dia juga mengingatkan agar kita tidak hidup terlalu steril. Sebab manusia sudah mempunyai proteksi alami pada setiap bagian anggota tubuh. “Kita juga jangan kelewat bersih, tubuh perlu belajar membentuk kekebalan. Tapi itu bukan berarti abai terhadap perlindungan dasar seperti vaksinasi,” ujarnya.***

Tags: Artikel Kesehatan
Share3Tweet2Send
Follow Berita BertuahPos di Google News

Melba Ferry Fadly

Melba Ferry Fadly

Jurnalis di Bertuahpos.com

Berita Terkait

Kebanyakan Minum Soda saat Lebaran, Ini Dampak Buruk Bagi Kesehatan
Kesehatan

Kebanyakan Minum Soda saat Lebaran, Ini Dampak Buruk Bagi Kesehatan

...

Read moreDetails
Penyakit Campak 18 Kali Lebih Menular Dibanding COVID-19

Penyakit Campak 18 Kali Lebih Menular Dibanding COVID-19

Wajarkah Anak Demam Setelah Imunisasi? — Penjelasan Prof Amin, Ahli Vaksin

Wajarkah Anak Demam Setelah Imunisasi? — Penjelasan Prof Amin, Ahli Vaksin

BPOM Rilis 34 Kosmetik Berbahaya Mengandung Merkuri, Hidrokuinon, hingga Steroid

BPOM Rilis 34 Kosmetik Berbahaya Mengandung Merkuri, Hidrokuinon, hingga Steroid

BPJS Kesehatan Ringankan Beban Pasien Penyakit Kronis di Tengah Biaya Selangit 

BPJS Kesehatan Ringankan Beban Pasien Penyakit Kronis di Tengah Biaya Selangit 

BPJS Kesehatan selalu jadi pegangan terakhir. Prinsip gotong royong tidak hanya meringankan beban, justru menjadi satu-satunya harapan di tengah keputusasaan.

Penopang Asa di Tengah Derita 

Next Post
Mengapa Eks Wakil Menkum HAM Denny Indrayana Tidak Ditahan Setelah 10 Tahun Jadi Tersangka

Mengapa Eks Wakil Menkum HAM Denny Indrayana Tidak Ditahan Setelah 10 Tahun Jadi Tersangka?

Show Transparency Report
  • Profil
  • Redaksi
  • Suara Anda
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Pedoman Media Siber

© 2013-2025 BertuahPos.com.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi

© 2013-2025 BertuahPos.com.