• Profil
  • Redaksi
  • Suara Anda
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Pedoman Media Siber
Kamis, Oktober 29, 2026
SUBSCRIBE
BertuahPos
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi
No Result
View All Result
BertuahPos
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi

Potensi Besar Jelantah Indonesia dan Tantangan Menuju Energi Terbarukan

Melba Ferry Fadly by Melba Ferry Fadly
19 April 2025
Potensi Besar Jelantah Indonesia dan Tantangan Menuju Energi Terbarukan

Potensi Besar Jelantah Indonesia dan Tantangan Menuju Energi Terbarukan

Share on FacebookShare on Twitter

BERTUAHPOS – Minyak jelantah atau minyak goreng bekas atau minyak jelantah — selama ini kerap dianggap limbah tak bernilai. Namun, siapa sangka, Indonesia justru memiliki potensi jelantah terbaik di dunia yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku energi terbarukan, seperti Sustainable Aviation Fuel (SAF).

Hal ini diungkapkan oleh Ketua Asosiasi Pengumpul Jelantah untuk Energi Baru Terbarukan Indonesia (APJETI), Matias Tumanggor, dalam Workshop Rantai Pasok Minyak Jelantah Berkelanjutan untuk SAF yang digelar di Gedung BJ Habibie, Jakarta, Rabu, 16 April 2025, seperti dilansir dari laman resmi BRIN.

Menurut Matias, kualitas jelantah Indonesia menempati peringkat pertama dunia berkat bahan bakunya yang sebagian besar berasal dari minyak nabati, yang digunakan oleh sektor hotel, restoran, dan kafe di dalam negeri. “Karena mengikuti asas halal, 95% bahan yang digunakan berasal dari minyak nabati. Ini juga yang diakui oleh mitra luar negeri,” ujarnya.

Sayangnya, meskipun potensinya sangat besar, pemanfaatan jelantah di dalam negeri masih minim. Sebagian besar jelantah hanya dimanfaatkan untuk produk lokal seperti lilin dan sabun. Padahal bahan ini bisa menjadi komoditas strategis untuk bahan bakar ramah lingkungan. APJETI sendiri telah menginisiasi pengumpulan jelantah sejak 2010. Semakin hari, produksi maupun kesadaran masyarakat terus meningkat.

Matias menyoroti absennya regulasi nasional yang mengatur secara khusus tentang tata kelola minyak jelantah. Ini menyebabkan kegiatan pengumpulan masih dianggap ilegal atau menyalahgunakan bahan limbah. Padahal pengelolaan yang baik berpotensi menyelamatkan lingkungan sekaligus menjadi sumber energi bersih. 

“Kami ingin dilibatkan dalam penyusunan regulasi karena ini menyangkut kesehatan, lingkungan, dan masa depan energi,” katanya.

Matias menjelaskan bahwa pengumpulan jelantah dilakukan dari berbagai sektor, mulai dari rumah tangga (melalui bank sampah atau sistem door-to-door), usaha makanan-minuman seperti hotel dan restoran, hingga UMKM, kantin, pedagang kaki lima, serta industri pertambangan. Bahkan, mereka juga menangani limbah penggorengan dari gorengan hingga kerupuk kadaluarsa.

Namun begitu, tantangan yang dihadapi tidak sedikit. Mulai dari tidak adanya kepastian pemanfaatan dalam negeri, belum adanya pembinaan kepada pelaku usaha kecil, hingga masih maraknya pengumpulan oleh pihak yang tidak terorganisir secara legal.

Untuk menjawab tantangan tersebut, APJETI telah menyiapkan sejumlah strategi: mendorong lahirnya pelaku usaha teredukasi dari desa hingga provinsi, melakukan sosialisasi masif ke masyarakat, bekerja sama dengan komunitas dan organisasi lokal, serta menggandeng BUMDes dan pemerintah daerah dalam memperluas wilayah pengumpulan hingga ke pelosok desa.

Workshop ini digelar oleh BRIN melalui Pusat Riset Sistem Produksi Berkelanjutan dan Penilaian Daur Hidup (PRSPBPDH), bekerja sama dengan PT Noovoleum Indonesia Investama, dengan pendekatan analisis Life Cycle Assessment (LCA).

Melalui kegiatan ini, diharapkan lahir sinergi antara pemangku kepentingan untuk membangun rantai pasok minyak jelantah yang berkelanjutan dan efisien. Dengan begitu, jelantah bukan lagi sekadar limbah, melainkan peluang besar dalam mendorong transisi energi Indonesia menuju masa depan yang lebih hijau.***

Tags: energiinsight
Share3Tweet2Send
Follow Berita BertuahPos di Google News

Melba Ferry Fadly

Melba Ferry Fadly

Jurnalis di Bertuahpos.com

Berita Terkait

Jepang Siapkan Pengurangan Subsidi Bensin Mulai Desember 2026, Apa yang Terjadi?
Ekonomi

Jepang Siapkan Pengurangan Subsidi Bensin Mulai Desember 2026, Apa yang Terjadi?

...

Read moreDetails
Arsitek Respon soal Atap Seng Picu Kanker Paru-Paru

Arsitek Respon soal Atap Seng Picu Kanker Paru-Paru

Proyek Mangkrak PLTU Koto Ringin di Siak Diusulkan Jadi Pembangkit Hijau

Proyek Mangkrak PLTU Koto Ringin di Siak Diusulkan Jadi Pembangkit Hijau

Rumah Bambu Tahan Gempa yang Dirakit Seperti Lego

Rumah Bambu Tahan Gempa yang Dirakit Seperti Lego

Penelitian Ini Ungkap Penyebab Turunnya Permukaan Air di Danau Toba

Penelitian Ini Ungkap Penyebab Turunnya Permukaan Air di Danau Toba

Harga BBM Nonsubsidi Naik, Ancaman Serius bagi Daya Beli Kelas Menengah

Antrean SPBU di Sumatera Dipicu Lonjakan Konsumsi BBM Subsidi, Apa Solusi Pemerintah?

Next Post
Harga Emas Antam di Pegadaian Turun — Ini Waktu yang Tepat untuk Investasi

Harga Emas Antam Pegadaian Turun — Ini Waktu yang Tepat untuk Investasi

Show Transparency Report
  • Profil
  • Redaksi
  • Suara Anda
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Pedoman Media Siber

© 2013-2025 BertuahPos.com.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi

© 2013-2025 BertuahPos.com.