Tahun 2015, Pekanbaru Siap Menuju City Gas

Jumat, 31 Oktober 2014 10:59 3450
Tahun 2015, Pekanbaru Siap Menuju City Gas
Foto/antaranews

Pemanfaatan gas bumi haruslah semakin ditingkatkan hingga ke segmen pasar konsumen rumah tangga. Apalagi Gas bumi juga mampu menjadi sumber energi alternatif hingga puluhan tahun ke depan. Namun keberhasilan program ini sangat tergantung pada lengkapnya infrastruktur.

Cadangan gas bumi Indonesia diperkirakan cukup untuk puluhan  tahun.  Kementrian ESDM merilis potensi gas bumi yang dimiliki Indonesia berdasarkan status tahun 2008 mencapai 170 TSCF dan produksi per tahun mencapai 2,87 TSCF. Dengan komposisi tersebut Indonesia memiliki reserve to production (R/P) mencapai 59 tahun.

Sedangkan produksi minyak bumi dalam lima tahun ke depan terus mengalami penurunan. Selain itu pengalihan pemakaian bahan bakar minyak menuju bahan bakar gas menjadi hal kunci dalam mengurangi impor bahan bakar minyak di Indonesia.

PGN menargetkan pada tahun ini dapat mengaliri gas ke 11 kota di Indonesia antara lain Jakarta, Palembang, Surabaya, Medan, Sidoarjo, Lampung, dan Bogor. Sesuai Kepmen ESDM No 2436, PGN diharuskan membangun 14 SPBG yang terdiri atas 12 permanen dan 2 MRU dengan lokasi di Jakarta, Jabar, Jatim, dan Riau.

Selanjutnya di tahun 2015 akan menyusul untuk memasang jaringan pipa ke rumah tangga di Pekanbaru, dengan target mengaliri gas setahun kemudian. Sehingga Pekanbaru bisa menjadi city gas pertama di Riau.

Wendi, Manager PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Pekanbaru optimis, gas bumi akan lebih mudah diterima oleh masyarakat Pekanbaru. Karena potensi pasar gas bumi masih terbuka luas. Yakni menjadikan Pekanbaru dan Perawang sebagai kota gas (city gas).

"Secara nasional PGN, membidik target 1 juta pelanggan. Tetapi khusus untuk Pekanbaru, dari hasil yang kita survei ada sekitar 10 ribu hingga 15 ribu ribu calon pelanggan potensial. Atau pelanggan rumahan yang berpotensi untuk memakai gas dari PGN," ungkapnya.

Dalam pendistribusiannya, gas PGN ini sama persis dengan air dari perusahaan air minum daerah (PDAM). Dan di Pekanbaru dilakukan dalam tiga cluster atau tiga tahap. Tahap pertama di Jalan Sudirman, tahap ke dua di Harapan Raya, dan terakhir daerah Panam.

Wendi yakin konversi ke Bahan Bakar Gas (BBG) ini akan diterima masyarakat di Bumi Lancang Kuning karena lebih aman dan menawarkan harga yang lebih murah dibandingkan gas elpiji. Perbandingannya, harga gas bumi hanya sepertiga dari harga gas elpiji. Jika diumpamakan per tabung 12 kilogram dengan harga rata-rata Rp100 ribuan, maka gas bumi dari PGN untuk pemakain normal rumah tangga per bulan seharga Rp30.000.

Bidik Dua Area di Riau

Untuk melancarkan program penyaluran gas ke masyarakat, PT PGN terus melakukan promosi  dan memantapkan infrastruktur di Riau. Sebagai tahap awal, ada dua area yang dibidik yakni  Pekanbaru dan Perawang  (Siak). 

Diungkapkan Manager Area Sumbagut PGN, Etanto beberapa waktu yang lalu, Siak masuk dalam perencanaan perluasan ekpansi di PGN. Karena Kabupaten Siak memiliki potensi yang sangat besar dalam penggunaan PGN, baik itu dalam industri maupun rumah tangga.

Diamini oleh Manager Area Pekanbaru, Wendi Purwanto yang menyatakan sudah dilakukan survey untuk Kawasan Tanjung Buton, Siak sejak dua tahun yang lalu. Dari hasil survey tersebut, PGN siap untuk membangun power plan untuk memudahkan pendistribusiannya ke wholesaler, retailer dan usaha lainnya seperti penyaluran gas ke rumah tangga ataupun komersil.

Sedangkan Perawang, Siak sebenarnya sudah lebih dulu menikmati gas dari PGN. Namun masih terbatas untuk kebutuhan Industri. "Kita awalnya datang ke Riau dikarenakan kebutuhan untuk industri di Perawang. Yakni IKPP yang meminta PGN untuk memenuhi bahan bakarnya, dan memang PGN dulu hanya diperuntukkan untuk industri saja," jelasnya.

PGN pun telah memiliki kantor operasional di Perawang, yang juga dianggap sebagai ujung tombak pelayanan kepada pelanggan. Perawang kemungkinan besar akan menjadi pilot project ke dua karena Perawang telah lebih dahulu mendapatkan gas bumi dari PGN.

"Kalau di Perawang tinggal memasang pipa-pipa kecil saja untuk ke rumah masyarakat. Dan kami prediksi pemasangan pipa di Perawang hanya butuh waktu tiga bulan," paparnya.

Lain lagi dengan Pekanbaru sebagai ibukota Riau. Kota ini dibidik menjadi pilot project utama dan perdana penyaluran gas untuk tingkat rumah tangga di Riau. Sebagai bentuk komitmen untuk menyediakan gas bumi ke masyarakat Pekanbaru, saat ini PGN sudah masuk ke tahap survey detail. Selanjutnya pada tahun 2015 baru dimulai pemasangan jaringan pipa sebagai penunjang infrastruktur.

Jika program ini berjalan lancar, PGN akan membangun station-station yang berbentuk cluster-cluster. Seperti cluster Siak atau cluster Perawang, dan yang pertama adalah cluster Pekanbaru.

Dijelaskan juga, Pekanbaru mendapat prioritas terlebih dahulu karena memiliki tingkat kesulitas tertinggi. Karena Pekanbaru memiliki penduduk yang padat. "Pekanbaru sudah padat dengan penduduk dan bangunan, jadi akan kita dahulukan," jelas Wendi. Direncanakan pembangunan jaringan pipa gas di Kota Pekanbaru akan dimulai pada tahun 2015.

Gandeng Perbankan Atasi Mahalnya Instalasi Gas

Potensi gas bumi di Tanah Air saat ini masih sangat berlimpah. Diprediksi akan mampu untuk memenuhi kebutuhan rakyat Indonesia hingga 70 tahun ke depan.

Namun tak bisa dipungkiri adanya kelemahan untuk menyalurkan gas bumi ke masyarakat. Salah satunya adalah mahalnya biaya investasi untuk infrastruktur atau instalasi pipa gas. Karena secara logika, untuk mendapatkan gas elpiji maka masyarakat tinggal menenteng tabung gas dan membelinya di pangkalan terdekat. Akan tetapi berbeda sekali dengan gas bumi, yang memerlukan pipa ke rumah-rumah.

Inilah yang menjadi tanda tanya di benak warga Pekanbaru, salah satunya Fitri (29). Ibu satu anak ini mengaku senang jika memang ada alternatif gas yang lebih mudah didapatkan serta lebih murah daripada elpiji Pertamina. Namun ia ragu  karena minimnya infrastruktur.

"Bagaimana cara pasang pipa gas dan sampai kapan bisa sampai tempat tinggal kami? Itu masih di luar bayangan. Kalaupun memang akan dipasangi pipa ke rumah-rumah, itu bisa habisin uang berapa banyak?" ujar Fitri.

Beragam tanda tanya yang muncul di tengah masyarakat yang masih awam dengan gas bumi dari PGN tentunya sudah menjadi pertimbangan. Beberapa waktu yang lalu, mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan mempunyai pemikiran untuk menekan biaya pemasangan gas bumi untuk rumah tangga.

Dilansir dari okezone, PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGAS) menyatakan pemasangan infrastruktur gas bumi untuk rumah tangga cukup mahal, yakni sekira Rp5-10 juta tergantung kondisi dan perizinan masing-masing daerah.

Untuk itu Dahlan menyarankan PGN bekerja sama dengan pihak perbankan untuk memberikan kredit kepada rumah tangga untuk pemasangan jaringan gas bumi ini. Sehingga masyarakat yang tidak punya uang dapat terbantukan.

"Saya menyarankan ke PGN karena orang tidak punya uang untuk instalasi tapi penghematan begitu besar ketika pakai gas ini. Baiknya PGN kerja sama dengan bank biar itu memberi kredit ke masyarakat," kata Dahlan saat acara Peresmian Sambungan Pipa Baru oleh PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGAS) di wilayah DKI Jakarta, Selasa (25/3/2014).

Menurut Dahlan, dengan cara ini tentu masyarakat akan sangat tertarik menggunakan jaringan gas bumi dan akan menghemat anggaran negara.

"Saya anjurkan kerja sama dengan bank. Bisa nyicil bank selama 3 tahun lalu lunas, bank tentu akan senang juga. Penghematan negara ini luar biasa. Di Semarang saja bisa Rp2 triliun, tapi ini karena pembangunan pipa gas dan bukan rumah tangga (di Semarang)," tukasnya.

Pola ini bisa menjadi solusi penyediaan infrastruktur penyaluran gas untuk bisa menyentuh pasar terbesar, yaitu rumah tangga. Karena dua komponen ini, infrastruktu dan pasar merupakan kunci utama terwujudnya transformasi energi ke gas bumi.

Komitmen Alirkan Gas ke Nusantara

Hingga saat ini, PGN telah mengoperasikan jalur pipa distribusi gas dengan panjang lebih dari 3.750 km. Jalur ini menyuplai gas bumi ke pembangkit listrik, industri, dan usaha komersial. Termasuk ke restoran, hotel dan rumah sakit, serta rumah tangga di wilayah-wilayah yang paling padat penduduknya di Indonesia.

Jalur pipa transmisi gas bumi PGN terdiri dari jaringan pipa bertekanan tinggi sepanjang sekitar 2.160 km. Pipa ini mengirimkan gas bumi dari sumber gas bumi ke stasiun penerima pembeli.

Selanjutnya untuk mengawasi kegiatan operasional transmisi dan distribusi, PGN membagi area bisnisnya menjadi empat Unit Bisnis Strategis.

Ke empatnya ditetapkan sesuai dengan letak geografis masing-masing. Yakni SBU Distribusi Wilayah I, mencakup area Sumatera Selatan, Lampung hingga Jawa Barat (termasuk Jakarta). Selanjutnya SBU Distribusi Wilayah II, mencakup area Jawa Timur.

Sedangkan yang ke tiga adalah SBU Distribusi Wilayah III, mencakup Sumianatera Utara, Riau (Pekanbaru) dan Kepulauan Riau (Batam). Terakhir SBU Transmisi, mencakup jaringan transmisi di Sumatera Selatan dan Jawa. (Anastasia Dwi Indrastuti/Editor bertuahpos.com)

loading...
TRAVELLING

Berita Terkini

10 Tahun Mengindap Liver, Ahmad Rodhi Kadeer Tak Pernah Mengeluh Sakit
Rabu, 29 Maret 2017 22:07

10 Tahun Mengindap Liver, Ahmad Rodhi Kadeer Tak Pernah Mengeluh Sakit

Mengindap penyakit Liver selama 10 tahun, Ahmad Rodhi Kadeer tidak pernah mengeluh atas sakitnya.

Pt sinar jernih suksesindo(sjs) Membuka lowongan.
Rabu, 29 Maret 2017 22:00

Pt sinar jernih suksesindo(sjs) Membuka lowongan.

PT sinar jernih suksesindo membutuhkan para kompoten tang bermotivasi tinggi untuk di tempat kan di leasing terkemuka di daerah kandis

Banjir Ucapan, Innalillahi wainailaihi rojiun Mantan Pimred Metro Riau Meninggal Dunia
Rabu, 29 Maret 2017 21:33

Banjir Ucapan, Innalillahi wainailaihi rojiun Mantan Pimred Metro Riau Meninggal Dunia

Ahmad rodhi Kadeer Rabu (29/3/2017) sekira pukul 20.35 WIB  meninggal dunia di Rumah Sakit Eka Hospital Pekanbaru.

Mutilasi di Bengkalis, Pelaku Simpan Potongan Tubuh Bayu Dalam Koper
Rabu, 29 Maret 2017 20:35

Mutilasi di Bengkalis, Pelaku Simpan Potongan Tubuh Bayu Dalam Koper

Perbuatan sadis terjadi di Jalan Riau, Desa Tanjung Medang, Kecamatan Rupat Utara, Kabupaten Bengkalis

Terkontaminasi Kotoran Manusia, Coca Cola Diperika Polisi
Rabu, 29 Maret 2017 18:55

Terkontaminasi Kotoran Manusia, Coca Cola Diperika Polisi

Salah satu perusahaan minuman terbesar dunia, Coca Cola, dipanggil pihak kepolisian terkait adanya kotoran manusia dalam  kaleng minumannya pada pengiriman ke sebuah pabrik di Irlandia utara. 

Whiz Hotel: PHRI Lebih Besar dari Walkot?
Rabu, 29 Maret 2017 18:51

Whiz Hotel: PHRI Lebih Besar dari Walkot?

Mendapat komentar pedas dari Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), mengenai permasalahan parkir, pihak Whiz Hotel Pekanbaru mempertanyakan peryataan PHRI.

Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia Angakatan 15 Dibuka
Rabu, 29 Maret 2017 18:43

Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia Angakatan 15 Dibuka

Rabu (29/3/2017), Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI) Basic Avsec Angkatan ke-15 resmi dibuka

Suami yang Selingkuh, Istri yang Dianiaya
Rabu, 29 Maret 2017 18:41

Suami yang Selingkuh, Istri yang Dianiaya

Kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) kembali terjadi. Kali ini terjadi pada seorang ibu rumah tangga W (26) yang dianiaya oleh suaminya Nurbeni alias Beni bin M Sulung (28).

Simpan Sabu, Empat Pemuda Diamankan Polsek Rateh Indragiri Hilir
Rabu, 29 Maret 2017 18:40

Simpan Sabu, Empat Pemuda Diamankan Polsek Rateh Indragiri Hilir

Diamankan empat orang diduga pelaku Tindak Pidana Penyalahgunaan Narkotika Golongan I Jenis sabu-sabu.

Mahasiswa dan Petinggi FKIP Biologi Duduk Bersama
Rabu, 29 Maret 2017 18:28

Mahasiswa dan Petinggi FKIP Biologi Duduk Bersama

Sukses menggelar Pekan Raya Biologi 2017 beberapa waktu silam, Himpunan Mahasiswa Prodi Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pengetahuan (FKIP) Universitas Riau (UR) mengelar syukuran sekaligus ramah tamah atau audiensi mahasiswa dengan petinggi prodi, Rabu (29/3/2017).