BERTUAHPOS – Kapalo Banda Taram di Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatra Barat, tengah menjadi sorotan. Objek wisata yang dikenal dengan panorama alam dan wahana rakitnya itu kini mengalami penyusutan air akibat musim kemarau panjang. Kondisi ini membuat sebagian pengunjung yang datang merasa kecewa, karena tidak bisa menikmati wisata sebagaimana biasanya.
Awalnya, Kapalo Banda Taram tidak begitu populer dibandingkan destinasi tetangganya, Lembah Harau, yang sudah lebih dahulu terkenal. Namun, berkat ulasan para wisatawan di media sosial, kawasan ini perlahan naik daun dan dikenal sebagai alternatif wisata alam yang menawarkan ketenangan serta suasana hijau yang menyejukkan mata.
Daya tarik utama Kapalo Banda Taram adalah danau kecil dengan air jernih yang biasanya dimanfaatkan untuk berenang maupun naik rakit. Aktivitas sederhana ini memberi pengalaman berbeda bagi wisatawan, terutama mereka yang ingin menikmati sensasi tradisional jauh dari hiruk pikuk perkotaan.
Sayangnya, musim kemarau panjang membuat debit air danau menurun drastis. Air yang biasanya membiru dan menyegarkan, kini surut hingga menyisakan area yang dangkal. Hal ini membuat wahana rakit tidak bisa berjalan maksimal dan pengunjung pun tidak dapat berenang seperti yang diharapkan.
Oly, seorang wisatawan asal Pekanbaru, mengaku kecewa setelah jauh-jauh datang bersama keluarganya. “Niatnya mau berenang bawa anak-anak, ternyata airnya tak ada. Jadinya cuma bisa foto-foto sebentar, anak-anak juga agak kecewa,” ujarnya saatkepada Bertuahpos, Minggu, 24 Agustus 2025.
Hal serupa juga dirasakan Venny, pengunjung asal Jambi. Ia menyayangkan kurangnya informasi dari pihak pengelola. “Waktu beli tiket tidak ada pemberitahuan kalau airnya surut. Harusnya dikasih tahu supaya kami bisa mempertimbangkan. Jadi tidak merasa tertipu,” katanya kecewa.
Kekecewaan pengunjung ini menjadi catatan penting bagi pengelola wisata. Pasalnya, Kapalo Banda Taram sedang berada di fase berkembang, di mana ulasan dari wisatawan sangat berpengaruh terhadap citra destinasi tersebut. Tanpa pengelolaan komunikasi yang baik, bisa saja popularitas yang diraih di media sosial merosot kembali.
Meski demikian, keindahan alam sekitar Kapalo Banda Taram tetap memikat. Hamparan pepohonan, udara sejuk khas dataran tinggi, serta suasana pedesaan yang tenang masih bisa dinikmati pengunjung. Bagi sebagian orang, kondisi ini tetap menjadi daya tarik tersendiri untuk sekadar bersantai atau mengabadikan momen dengan kamera.
Ke depan, wisatawan berharap pengelola bisa lebih transparan dalam memberikan informasi kondisi wisata, khususnya saat musim kemarau. Dengan begitu, Kapalo Banda Taram tidak hanya dikenal karena keindahannya, tetapi juga profesional dalam memberikan pelayanan terbaik bagi pengunjung.***









