BERTUAHPOS – Jam Gadang merupakan salah satu ikon terkenal di Sumatra Barat, khususnya di Kota Bukittinggi. Menara jam setinggi 26 meter ini dibangun pada tahun 1926 pada masa pemerintahan Hindia Belanda dan hingga kini tetap berdiri kokoh di jantung kota.
Jam Gadang didirikan sebagai hadiah dari Ratu Belanda kepada sekretaris kota Bukittinggi saat itu. Sejak awal berdirinya, bangunan ini menjadi pusat perhatian dan penanda nol kilometer kota Bukittinggi.
Mesin jam yang digunakan di menara ini didatangkan langsung dari Jerman. Konon, mesin jam tersebut hanya dibuat dua unit di dunia, satu terpasang di Big Ben, London, dan satu lagi di Jam Gadang Bukittinggi. Keunikan inilah yang membuat Jam Gadang memiliki nilai sejarah yang tinggi.
Selain itu, angka pada Jam Gadang ditulis menggunakan angka Romawi. Namun, penulisan angka empat berbeda dari biasanya. Alih-alih menggunakan “IV”, di Jam Gadang angka empat ditulis “IIII”. Detail ini menjadi ciri khas yang masih bisa dilihat hingga sekarang.
Bentuk atap Jam Gadang juga mengalami perubahan dari masa ke masa. Pada awalnya berbentuk bulat dengan hiasan patung ayam jantan, lalu diganti menyerupai pagoda saat masa pendudukan Jepang. Setelah Indonesia merdeka, atap Jam Gadang diubah menjadi berbentuk gonjong khas rumah adat Minangkabau.
Ali Akbar, pemandu wisata di kawasan Panorama Bukittinggi, menyebutkan bahwa Jam Gadang adalah saksi sejarah panjang kota. “Bangunan ini berdiri dari masa kolonial, masa kemerdekaan, hingga sekarang. Bukan hanya penanda waktu, tapi juga simbol kebanggaan masyarakat Minangkabau,” ujarnya kepada Bertuahpos, Minggu, 24 Agustus 2025.
Kini, Jam Gadang menjadi salah satu destinasi wisata utama di Bukittinggi. Kawasan sekitarnya ditata sebagai ruang publik dengan taman, area kuliner, serta lokasi berkumpul bagi wisatawan dan masyarakat.
Tidak hanya itu, Jam Gadang juga kerap menjadi pusat berbagai kegiatan kebudayaan dan hiburan. Setiap momen besar seperti perayaan tahun baru atau festival daerah sering dipusatkan di kawasan ini.
Kehadiran Jam Gadang tidak hanya memperkuat identitas Kota Bukittinggi, tetapi juga menjadi daya tarik wisata Sumatra Barat secara keseluruhan. Ribuan pengunjung, baik lokal maupun mancanegara, datang setiap tahunnya untuk menyaksikan langsung kemegahan menara ini.
Dengan segala nilai sejarah, keunikan, dan daya tariknya, Jam Gadang tidak hanya berfungsi sebagai penunjuk waktu, tetapi juga sebagai warisan budaya yang patut dijaga dan dilestarikan.***







