BERTUAHPOS – Volume produksi kopi di Riau, diproyeksikan mengalami tren positif pada 2025. Peningkatan ini didorong oleh perluasan lahan kopi rakyat yang didorong oleh tingginya konsumsi masyarakat terhadap komoditi itu—seiring dengan meningkatnya budidaya kopi jenis Liberika yang tumbuh subur di lahan gambut.
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau mencatat estimasi produksi kopi pada tahun 2024 mencapai angka sekitar 3.400 hingga 3.800 ton. Angka ini menunjukkan stabilitas sektor perkebunan kopi meskipun menghadapi tantangan perubahan iklim di tingkat lokal.
Adapun angka produksi kopi meningkat lebih tinggi pada tahun 2025 menjadi kisaran 3.900 hingga 4.200 ton. Target ini tertuang dalam rencana strategis pengembangan komoditas ekspor unggulan non-sawit di Provinsi Riau.
Kabupaten Kepulauan Meranti menempati posisi pertama sebagai daerah penghasil kopi tertinggi di Riau. Wilayah ini menyumbang lebih dari 60% total produksi kopi provinsi melalui varietas unggul Kopi Liberika Meranti yang sudah mendunia.
Kabupaten Indragiri Hilir menyusul di peringkat kedua. Petani di daerah ini mengandalkan sistem tumpang sari antara tanaman kelapa dan kopi untuk memaksimalkan hasil lahan di kawasan pesisir.
Kabupaten Bengkalis mengamankan posisi ketiga dalam daftar penghasil kopi terbesar di Riau. Fokus pengembangan di Bengkalis berpusat pada pemanfaatan lahan gambut yang sebelumnya tidak produktif menjadi perkebunan kopi yang bernilai ekonomis tinggi.
Sektor perkebunan kopi Riau kini mulai mencuri perhatian pasar internasional, terutama karena karakteristik kopi Liberika yang unik. Kopi ini memiliki aroma herbal yang khas serta kadar kafein yang lebih rendah dibandingkan jenis Robusta atau Arabika.
Pemda terus mendorong para petani untuk meningkatkan kualitas pascapanen agar harga jual di tingkat pengumpul tetap stabil. Program pembibitan unggul dan pendampingan teknis menjadi prioritas pemerintah untuk mencapai target produksi tahun 2025.
Selain pasar domestik, akses pasar ekspor bagi kelompok tani juga diperkuat. Langkah ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan petani kopi lokal di tengah fluktuasi harga komoditas global.***(AI)









