BERTUAHPOS.COM — Para petani kopi Liberika Meranti di Desa Kedabu Rapat, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau, masih membutuhkan dukungan pemerintah daerah untuk mendongkrak nilai jual kopi dari tanah gambut itu agar harganya lebih kompetitif.
Masih minimnya edukasi pengolahan dan jaminan pasar, membuat hasil panen kopi Liberika Meranti hanya dijual dalam bentuk produk setengah jadi dengan harga yang jauh murah.
Menurut petani kopi Meranti di Desa Kedabu Rapat Nyoto, selama ini para petani masih belum mampu untuk mengolah kopi Liberika Meranti hingga ke tahap yang bisa mendongkrak nilai jualnya secara signifikan.
“Edukasi pengolahan kopi di sini masih sangat lemah. Kalau disentuh sedikit lagi pengolahannya, harga jualnya bisa jauh lebih tinggi dari sekarang,” ujar Nyoto, saat berdiskusi dengan awak media di Kota Dumai, belum lama ini.
Harga jual kopi jenis itu, saat ini berkisar Rp90.000 per kilogram untuk produk setengah jadi yang umum dijual petani. Padahal, kata Nyoto, jika diolah menjadi roasted beans, harganya bisa melompat lebih dari dua kali lipat hingga menyentuh Rp180.000 lebih per kilogram.
Adapun pasarnya, masih didominasi oleh pembeli dari Malaysia, Singapura, dan Filipina, terutama untuk produk kopi tiam yang sangat diminati di kawasan Asia Tenggara.
“Nah, dominasi pasar ekspor ini sebenarnya membuktikan bahwa kopi ini memiliki daya saing tinggi di kancah internasional,” tambahnya.
Nyoto berharap pemerintah mengambil peran yang lebih aktif dalam memperkuat rantai pasok kopi Liberika Meranti agar petani tidak terus-menerus terjebak hanya menjual biji kering.
Hilirisasi kopi dinilai menjadi kunci untuk menciptakan harga yang lebih stabil sekaligus meningkatkan nilai ekonomi yang bermuara langsung pada kesejahteraan petani di Desa Kedabu Rapat.









