BERTUAHPOS — Kasus Penyakit Hewan Menular Strategis (PHMS) di Provinsi Riau menunjukkan tren penurunan pada Februari 2026. Meski demikian, sejumlah daerah masih menjadi titik rawan penyebaran penyakit ternak, terutama Kabupaten Indragiri Hulu dan Rokan Hulu.
Berdasarkan laporan Bidang Kesehatan Hewan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Riau, sepanjang Januari hingga 28 Februari 2026, tercatat sebanyak 648 kasus PHMS dari 62 kejadian yang tersebar di beberapa kabupaten dan kota di Riau.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan DPKH Riau, drh. Faralinda Sari, menyebutkan bahwa jumlah kasus pada Februari mengalami penurunan dibandingkan Januari, dan menjadi penanda bahwa upaya pengendalian mulai memberikan dampak.
“Tren di Februari mengarah pada penurunan intensitas kasus dibanding Januari, namun pengawasan dan pengendalian tetap harus diperkuat agar tidak terjadi peningkatan kembali,” ujarnya dalam laporan resmi kegiatan kesehatan hewan.
Dari seluruh penyakit yang dilaporkan, Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) masih menjadi kasus paling dominan dengan total 522 kasus. Sementara penyakit Jembrana tercatat 239 kasus dan menjadi perhatian khusus karena terkonsentrasi di beberapa wilayah tertentu.
Secara kewilayahan, Kabupaten Indragiri Hulu menjadi daerah dengan jumlah kasus tertinggi mencapai 304 kasus, disusul Rokan Hulu sebanyak 193 kasus dan Kabupaten Siak dengan 129 kasus. Ketiga wilayah tersebut dinilai sebagai zona prioritas pengendalian karena memiliki risiko penularan berkelanjutan.
Selain PMK dan Jembrana, beberapa penyakit lain seperti rabies dan Lumpy Skin Disease (LSD) tercatat dalam jumlah terbatas. Sementara penyakit strategis lain seperti antraks, brucellosis, ASF, CSF, avian influenza, dan septicaemia epizootica tidak dilaporkan selama periode tersebut.
DPKH Riau menilai tingginya mobilitas ternak antarwilayah serta pola pemeliharaan tradisional menjadi faktor risiko utama penyebaran penyakit. Karena itu, pemerintah daerah mendorong peningkatan vaksinasi serta penguatan biosekuriti di sentra peternakan.
“Fokus pengendalian diarahkan pada peningkatan surveilans aktif, pembatasan lalu lintas ternak, dan vaksinasi di wilayah berisiko tinggi,” tulis analisis epidemiologis dalam laporan tersebut.
Pemerintah berharap tren penurunan kasus dapat terus berlanjut pada bulan berikutnya, terutama menjelang periode peningkatan aktivitas perdagangan ternak yang berpotensi meningkatkan risiko penyebaran penyakit.***









