ANGELO Di Livio, legenda sayap Italia dan pemenang Piala Dunia 2006, kecewa atas kegagalan tragis Timnas Italia melaju ke putaran final Piala Dunia 2026. Dirinya meluapkan kekecewaan itu dengan menyindir kualitas sepak bola Italia saat ini sudah jatuh ke level semenjana dan kehilangan identitas hebatnya di kancah internasional.
Langkah Azzurri terhenti secara menyakitkan di tangan Bosnia-Herzegovina dalam laga final playoff Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Eropa. Bertanding di Stadion Zenica, Rabu, 1 Maret 2026 dini hari WIB, Italia menyerah lewat babak adu penalti dengan skor 1-4 setelah bermain imbang 1-1 di waktu normal.
Nasib sial Italia bermula saat Alessandro Bastoni menerima kartu merah pada menit ke-41 akibat melanggar Amar Memic. Bermain dengan 10 orang membuat skuat asuhan Luciano Spalletti kewalahan hingga akhirnya dua eksekutor penalti, Pio Esposito dan Bryan Cristante, gagal menuntaskan tugas mereka di babak tos-tosan. Kegagalan ini menjadi sejarah kelam karena Italia resmi absen dalam tiga edisi Piala Dunia secara beruntun (2018, 2022, dan 2026).
Di Livio menilai keterpurukan tim nasional merupakan cerminan dari menurunnya kualitas kompetisi kasta tertinggi mereka, Serie A. Ia membandingkan era keemasannya saat Italia masih memiliki deretan maestro lapangan tengah yang mampu mengubah jalannya pertandingan. “Sepak bola Italia telah menjadi biasa saja,” ujar Di Livio, dikutip dari Tuttomercatoweb.
Baginya, mentalitas skuat saat ini sedang berada di titik nadir. “Menurut saya, lolos ke Piala Dunia seharusnya hal yang normal bagi tim nasional. Tetapi kita terjebak dalam situasi psikologis yang sulit keluar,” lanjutnya.
Menurutnya, Italia tidak lagi mencetak pemain kreatif yang lincah seperti era Alessandro Del Piero, Francesco Totti, atau Roberto Baggio. Kualitas liga domestik dianggap bertanggung jawab atas minimnya stok pemain bintang yang mampu menjadi pembeda.
“Ini juga bergantung pada liga kita, pada kualitas pemain: itulah kita, dan kadang itu sangat sulit. Kita tidak lagi memiliki pemain nomor 10, memang kita menemukan Pio Esposito, kita punya Kean… Tapi kita tidak lagi punya pemain yang bisa melewati lawan, hanya pemain biasa. Sekarang kita menanggung akibatnya,” tegas Di Livio.
Keterpurukan ini juga memicu tekanan besar terhadap Presiden FIGC (Federasi Sepak Bola Italia), Gabriele Gravina. Di Livio mendesak adanya perubahan struktural besar-besaran agar Italia tidak semakin tertinggal jauh dari negara-negara Eropa lainnya.
“Saya tidak tahu apa yang akan terjadi, tetapi jelas situasinya tidak bagus. Reformasi harus dilakukan agar bisa kompetitif lagi. Saya kecewa dan terpukul; sesuatu harus dilakukan,” katanya.***









