BERTUAHPOS.COM, PEKANBARU – Sudah menjadi kelaziman jika seorang presiden memiliki ajudan. Biasanya, ajudan ini berasal dari TNI dan Polri.
Begitu juga saat Indonesia baru merdeka pada 17 Agustus 1945. Presiden Soekarno juga menginginkan seorang ajudan.
Namun, saat itu, kondisi serba darurat dan terbatas. Selain itu, belum ada militer dan polisi Indonesia.
Akhirnya, Soekarno memilih seorang pemuda sipil, dijadikan militer, dan diberi pangkat Letnan. Pemuda inilah yang kemudian menjadi ajudan Soekarno.
Dikutip dari merdeka.con, tiba-tiba ada yang protes kepada Soekarno mengenai pangkat sang ajudan. Dikatakannya, Ratu Juliana dari Belanda yang hanya memimpin 10 juta orang memiliki ajudan dengan pangkat kolonel.
Masa, Soekarno yang memimpin 70 juta orang Indonesia saat itu, hanya memiliki ajudan berpangkat letnan.
Soekarno setuju. Lalu, dipanggillah sang ajudan.
“Berapa lama kau jadi letnan?” tanya Soekarno.
‘Siap, 1,5 jam pak”.
“Mulai sore ini, kau menjadi mayor,” kata Soekarno lagi.
Begitulah, dalam waktu singkat, pangkat sang ajudan naik menjadi mayor. Pangkat mayor untuk ajudan presiden bertahan hingga kejatuhan Soekarno. Kemudian, sejak masa Soeharto, pangkat ajudan presiden adalah kolonel, dan bertahan hingga saat ini. (bpc4)








