Pemerintah pastikan program Makan Bergizi Gratis tetap jalan meski menuai kritik AEI terkait anggaran dan kasus keracunan ribuan siswa.
BERTUAHPOS — Pemerintah memastikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap berjalan meski mendapat desakan penghentian sementara dari Aliansi Ekonom Indonesia (AEI).
Keputusan ini ditegaskan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto usai rapat kabinet yang dipimpin langsung oleh Presiden Prabowo Subianto, Senin, 29 September 2025 di Jakarta.
“Tidak dihentikan, kemarin Pak Presiden sudah rapat dan Menteri Koordinator Pangan sudah menjelaskan ke media,” ujar Airlangga.
Dia mengatakan pemerintah telah memaparkan kepada para ekonom terkait pelaksanaan program MBG.
Pada 2025, pemerintah mengalokasikan anggaran Rp71 triliun, dan akan naik drastis menjadi Rp335 triliun pada 2026.
Selain MBG, pemerintah juga menyoroti program unggulan lain seperti Koperasi Merah Putih.
Dilansir dari Investor.id, Selasa, 30 September 2025, AEI meminta pemerintah menghentikan sementara program MBG karena dianggap bermasalah, mulai dari misalokasi anggaran hingga kasus keracunan makanan di sejumlah daerah.
Sekretaris Jenderal International Economic Association (IEA), Lili Yan Ing, yang mewakili AEI, menilai alokasi anggaran MBG tidak proporsional.
Ia menyarankan agar pemerintah melakukan uji coba (piloting) di wilayah yang benar-benar membutuhkan, khususnya masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah.
“Pemerintah harus punya target piloting di daerah tertentu, melibatkan guru, orang tua siswa, dengan SOP jelas, transparansi, dan akuntabilitas,” kata Lili.
AEI juga menyoroti tingginya angka keracunan dalam program ini. Data Badan Gizi Nasional (BGN) mencatat sejak Januari hingga 25 September 2025 terdapat 70 kasus keracunan dengan 5.914 korban.
Kasus terbanyak tercatat di Jawa dengan 41 kejadian dan 3.610 korban, disusul Sumatra dengan 9 kasus (1.307 korban), serta Kalimantan, Sulawesi, dan Indonesia Timur dengan 20 kasus (997 korban).
Lima wilayah dengan jumlah korban terbesar antara lain Bandar Lampung (503 korban), Lebong-Bengkulu (467), Bandung Barat (411), Banggai Kepulauan (339), dan Kulon Progo (305).
Tren kasus juga meningkat tajam pada Agustus hingga September 2025. Pada Agustus tercatat 1.988 korban dari 9 kasus, sedangkan pada September melonjak menjadi 2.210 korban dari 44 kasus.
Meski menuai kritik, pemerintah menegaskan program MBG tetap dilanjutkan sebagai salah satu prioritas utama Presiden Prabowo.***









