BERTUAHPOS.COM — Seekor tapir (Tapirus indicus) jantan dewasa dengan bobot mencapai 300 kilogram ditemukan terbujur kaku tak bernyawa di tengah jalan koridor perisahaan kehutanan, Kecamatan Logas Tanah Darat, Kabupaten Kuantan Singingi.
Temuan memilukan ini memicu respons dari Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau. Informasi mengenai kematian Tapir itu diketahui pada 16 Juni 2026.
“Berdasarkan pola luka dan trauma fisik yang ditemukan, tapir malang ini diduga kuat tewas seketika setelah dihantam dengan keras oleh kendaraan roda empat atau truk bermuatan besar yang melintas dengan kecepatan tinggi di jalan koridor perusahaan tersebut,” kata Kepala Bidang Teknis BBKSDA Riau Ujang Holisudin.
Lokasi kejadian ternyata hanya berjarak sekitar 2 kilometer dari batas luar kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN). Ironisnya, titik jalan koridor tempat tapir itu terkapar merupakan jalur lintasan alami yang sudah turun-temurun digunakan oleh kawanan tapir untuk bermigrasi dan mencari makan.
Hasil autopsi visual dan pemeriksaan oleh dokter hewan BBKSDA Riau mengungkapkan luka robek di bagian pinggul serta paha kiri, ditambah luka parah di perut sebelah kanan. Tampak darah segar masih mengalir keluar dari rongga hidung satwa langka tersebut yang mengindikasikan ada hantaman yang sangat kuat.
Namun, BKSDA Provinsi Riau memastikan bahwa peristiwa ini murni kecelakaan dan bukan ulah para pemburu liar. Pemeriksaan bersama yang melibatkan Kapolsek Logas Tanah Darat, Polisi Kehutanan, serta staf Balai Taman Nasional Tesso Nilo memastikan tidak ada unsur kesengajaan.
Tim investigasi tidak menemukan adanya bekas proyektil peluru, luka tembak, ataupun sayatan senjata tajam yang biasa ditinggalkan oleh pelaku kriminal kehutanan. Semua bukti fisik di lapangan mengarah pada satu kesimpulan pahit, yakni tabrak lari.
Guna mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, proses pemakaman sang tapir langsung dilakukan di lokasi penemuan dengan protokol, sesuai prosedur medis satwa liar, demi mencegah potensi penyebaran penyakit menular serta risiko zoonosis yang mengancam warga sekitar.
“Kami mengimbau agar rambu-rambu perlintasan satwa segera dipasang dan kecepatan kendaraan dibatasi secara ketat. Sebagai salah satu spesies kunci pengingat keseimbangan ekosistem hutan Sumatra, hilangnya satu tapir dewasa adalah tamparan keras bagi masa depan hutan kita yang kian terfragmentasi,” tegasnya.









