BERTUAHPOS.COM — Super El Nino atau yang dijuluki “Godzilla El Nino” kembali menjadi perbincangan hangat di kalangan ilmuwan iklim global pada 2026, namun peneliti Indonesia menilai skenario ekstrem tersebut kecil kemungkinannya terwujud tahun ini meski sejumlah lembaga meteorologi internasional mulai mengeluarkan peringatan serius.
Hal ini disampaikan oleh Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Eddy Hermawan, dikutip dari Kompas.com, Senin, 25 Mei 2026. “Memang saat ini sedang berkembang isu tentang akan munculnya El Nino yang dikatakan bukan El Nino biasa, tapi super El Nino atau Godzilla El Nino,” ujarnya.
Eddy menjelaskan, istilah Godzilla El Nino merujuk pada kejadian El Nino sangat kuat seperti yang pernah terjadi pada 1997–1998 dan 2015–2016 yang menyebabkan dampak besar di berbagai negara termasuk Indonesia. El Nino disebut ekstrem, atau masuk kategori super El Nino ketika anomali suhu muka laut di Samudra Pasifik melampaui angka 2 derajat Celsius, seperti yang terjadi pada dua kejadian besar tersebut.
Sementara beberapa model prediksi dari Australia memperkirakan anomali suhu pada Oktober 2026 bisa mendekati angka 3, kondisi saat ini dinilai belum menunjukkan tanda-tanda yang cukup kuat menuju skenario ekstrem itu. “Yang terjadi saat ini masih jauh dari angka dua — walaupun diprediksi bisa meningkat pada Oktober, sebagian besar model dunia masih menunjukkan kondisi moderat,” tegas Eddy.
Ia menambahkan hanya satu model dari Australia yang memperlihatkan potensi anomali di atas dua, sementara mayoritas model iklim global lainnya masih berada di bawah ambang batas super El Nino. Fakta ini memperkuat penilaian bahwa ancaman Godzilla El Nino 2026 tidak sekuat yang dikhawatirkan sebagian pihak.
Salah satu alasan kuat Eddy meragukan kemunculan super El Nino tahun ini adalah tidak adanya gejala “mencuri start” seperti yang terjadi pada 1997 dan 2015. Pada dua periode tersebut, pemanasan suhu laut di Pasifik sudah mulai meningkat sejak April sehingga durasi El Nino berlangsung sangat panjang mencapai 13 hingga 14 bulan, sementara pada Mei 2026 anomali suhu laut masih berada di sekitar 0,5.
“Indikasi mencuri start belum muncul — karena itu probabilitas munculnya Godzilla El Nino menjadi kecil,” kata Eddy.
Faktor waktu juga menjadi pertimbangan penting dalam analisis ini. El Nino besar terakhir baru saja terjadi pada 2023–2024, sehingga peluang munculnya super El Nino hanya dalam selang tiga tahun dinilai sangat kecil karena alam membutuhkan waktu cukup panjang untuk mengumpulkan energinya.
“Alam itu butuh waktu cukup lama untuk mengumpulkan energinya — dalam waktu tiga tahun tidak cukup kuat untuk menghasilkan El Nino besar,” ujar Eddy.
Eddy juga menekankan bahwa kekuatan El Nino tidak hanya ditentukan suhu laut di Pasifik, tetapi juga dipengaruhi kondisi Samudra Hindia melalui fenomena Indian Ocean Dipole (IOD). Pada 1997, nilai IOD mencapai 1,8 sehingga memperkuat dampak El Nino yang saat itu juga sangat tinggi, sedangkan kondisi 2026 justru menunjukkan IOD cenderung netral.
“IOD enggan meninggalkan fase normal — artinya dia tidak mendukung lahirnya El Nino Godzilla,” kata Eddy, seraya menyebut hasil pemodelan dari lembaga meteorologi Australia maupun Jepang juga memperkirakan IOD tetap normal hingga Oktober 2026.
Dalam klasifikasi El Nino, anomali suhu laut dibagi ke dalam beberapa kategori mulai dari netral di angka 0–0,5, lemah di 0,5–1, moderat di 1–1,5, kuat di 1,5–2, hingga super kuat atau Godzilla di atas angka 2. Menurut Eddy, probabilitas El Nino 2026 mencapai level super kuat sangat kecil dan peluang terbesar justru berada pada kategori moderat dengan anomali suhu laut yang kemungkinan hanya berada di kisaran 1 hingga 1,5.
“Kesimpulannya, Godzilla El Nino sepertinya tidak bakal muncul di tahun 2026,” tegasnya.
Meski tidak seekstrem 1997 atau 2015, El Nino tetap berpotensi menyebabkan musim kemarau lebih kering di sejumlah wilayah Indonesia, terutama kawasan dengan pola hujan monsunal yang memiliki perbedaan tegas antara musim hujan dan kemarau.
Eddy mengungkapkan wilayah paling rentan adalah NTT sebagai titik awal, yang dampaknya kemudian berpotensi menjalar ke NTB, Bali, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sumatera Selatan bagian selatan, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi bagian selatan, sementara Papua dan Sumatera bagian utara diprediksi tidak terpengaruh.
Puncak pengaruh El Nino di Indonesia, khususnya Pulau Jawa, diprediksi terjadi pada September hingga Oktober 2026 sebelum kondisi berangsur mereda saat Monsun Asia mulai aktif membawa hujan ke kawasan Indonesia pada November. “Intinya adalah jangan terlalu panik akan terjadinya kemarau panjang seperti tahun 1997–1998 atau 2015–2016,” kata Eddy.









