BERTUAHPOS — Polda Riau menurunkan tim khusus untuk menyelidiki penyebab kematian anak gajah Sumatera bernama Kalista Lestari atau Tari. Gajah betina berusia dua tahun itu ditemukan mati mendadak di camp Elephants Flying Squad SPTN Wilayah I Lubuk Kembang Bunga, Balai Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Kabupaten Pelalawan, Rabu (10/9/2025) pagi.
Kepala Subdit IV Ditreskrimsus Polda Riau, AKBP Nasrudin, mengatakan tim penyidik bekerja sama dengan petugas TNTN di lokasi kejadian. Hingga kini, penyebab kematian Tari masih dalam proses penyelidikan.
“Anggota saat ini berada di TKP bersama petugas TNTN. Dugaan kemungkinan gajah mati karena diracun juga sedang diselidiki,” ujar Nasrudin, Rabu siang.
Kematian Tari menambah panjang daftar konflik antara satwa liar dengan aktivitas manusia di kawasan TNTN. Kawasan konservasi ini menghadapi tekanan serius akibat perambahan liar yang kerap dijadikan lahan perkebunan kelapa sawit.
TNTN merupakan habitat penting gajah dan harimau Sumatera. Namun, dari total luas kawasan 81.793 hektare, lebih dari separuhnya telah rusak akibat pembalakan dan pembukaan lahan ilegal. Kondisi ini mempersempit ruang hidup satwa liar.
Data Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau mencatat, sejak 2015 hingga Juni 2025 terdapat 23 gajah Sumatera mati di kawasan TNTN. Kasus tertinggi terjadi pada 2015 dengan delapan ekor gajah mati, sementara pada 2025 tercatat satu ekor.
Kepala BBKSDA Riau, Supartono, menyebut penyebab kematian bervariasi, mulai dari racun, jerat, perburuan liar, hingga penyakit. Salah satu kasus tragis adalah kematian gajah latih bernama Rahman pada Januari 2024 yang diduga diracun dan kehilangan satu gadingnya.
Untuk mencegah kasus serupa, BBKSDA Riau melakukan berbagai upaya konservasi, termasuk menjaga habitat hutan yang tersisa, melakukan pengayaan habitat, serta memasang GPS Collar untuk memantau pergerakan gajah. Pemerintah juga berupaya merebut kembali kawasan TNTN yang dirambah ilegal melalui Satuan Tugas Penanganan Kawasan Hutan (PKH).***









