BERTUAHPOS.COM — Menteri Lingkungan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat menyerukan tobat ekologis kepada seluruh elemen masyarakat dan dunia usaha sebagai respons terhadap krisis lingkungan yang semakin mengancam.
Menurutnya, perubahan cara pandang manusia terhadap alam dinilai menjadi kunci utama mengatasi tantangan perubahan iklim, pencemaran, dan hilangnya keanekaragaman hayati.
Seruan tersebut disampaikan Jumhur dalam acara IDXC Anugerah ESG 2026 di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, pada Rabu malam, 29 Juli. Ia menekankan bahwa akar krisis lingkungan sesungguhnya bukan semata pada gejala fisik, melainkan pada cara manusia memosisikan diri terhadap alam.
“Pada akhirnya, tantangan terbesar yang kita hadapi bukan semata-mata perubahan iklim, pencemaran, atau hilangnya keanekaragaman hayati. Tantangan terbesar sesungguhnya adalah cara pandang kita terhadap alam. Karena itu, saya mengajak kita semua untuk melakukan tobat ekologis,” ujar Jumhur.
Tobat ekologis dimaknai sebagai perubahan kesadaran mendasar bahwa manusia bukanlah penguasa alam yang bebas mengeksploitasi sumber daya tanpa batas. Manusia adalah bagian dari ekosistem yang memiliki tanggung jawab penuh menjaga keseimbangan alam.
Konsep tersebut harus diwujudkan melalui transformasi di berbagai lini kehidupan secara simultan. Perubahan mencakup cara berpikir, cara memproduksi, cara mengonsumsi, hingga cara berinvestasi.
“Tobat ekologis berarti mengubah cara berpikir, cara memproduksi, cara mengonsumsi, dan cara berinvestasi agar setiap keputusan yang kita ambil selalu mempertimbangkan keberlanjutan lingkungan hidup bagi generasi yang akan datang,” kata Jumhur.
Jumhur juga mengajak dunia usaha menjadikan semangat Beyond Compliance sebagai landasan transformasi menuju praktik bisnis berkelanjutan. Alam tidak lagi boleh dipandang sebagai objek eksploitasi, melainkan sebagai amanah yang harus dijaga demi keberlangsungan kehidupan.
Penerapan semangat tersebut diyakini mampu mendorong perusahaan Indonesia menjadi pelopor inovasi keberlanjutan. Langkah ini akan memperkuat daya saing nasional sekaligus memberikan kontribusi nyata dalam agenda pembangunan jangka panjang.
Target besar seperti Indonesia Emas 2045 dan Net Zero Emission pada 2060 dinilai hanya dapat tercapai jika seluruh sektor melakukan transformasi fundamental. Keberlanjutan lingkungan harus menjadi arus utama dalam setiap keputusan bisnis dan kebijakan publik.
“Dengan semangat tersebut, perusahaan Indonesia mampu menjadi pelopor inovasi keberlanjutan, memperkuat daya saing nasional, serta memberikan kontribusi nyata dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045 dan mencapai target Net Zero Emission 2060 atau lebih cepat,” kata Jumhur.









