BERTUAHPOS – Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah pesisir Provinsi Riau memasuki fase krusial pada hari keenam operasi, Sabtu kemarin.
Tim gabungan menerapkan strategi khusus dengan memfokuskan serangan pada pemukulan kepala api guna memutus jalur rembetan lahan gambut yang kian meluas.
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan (Dalkarhut) Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, menjelaskan bahwa konsentrasi personel tersebar di beberapa titik panas, termasuk Desa Titi Akar, Kecamatan Rupat Utara, Kabupaten Bengkalis.
Di lokasi tersebut, kekuatan penuh dari Daops Sumatera V/Dumai diperkuat oleh tim BKO dari Sarolangun dan Muba untuk mengamankan area pemukiman warga yang sempat terancam.
“Tim saat ini memukul kepala api di sisi kiri untuk menghambat laju kebakaran, sekaligus mengurangi asap pada bagian ekor dan sayap api. Proses ini membutuhkan kesabaran karena api sudah masuk ke dalam pori-pori gambut,” ujar Ferdian dalam laporannya.
Meski pemukiman berhasil diamankan, Ferdian mengakui bahwa tim menghadapi kendala serius berupa minimnya sumber air di lokasi karhutla.
Hal serupa terjadi di Desa Sekodi, di mana api telah menyatu dalam satu hamparan luas yang mencakup Desa Teluk Lancar, Palkun, Kelemantan, hingga Kembung Luar.
Kondisi vegetasi yang kering dan tebalnya lapisan bahan bakar di atas lahan gambut membuat api sulit dijinakkan secara total.
Untuk memperkuat barisan, hasil penilaian lapangan (*size up*) menunjukkan perlunya tambahan dua regu Manggala Agni dari Siak dan satu regu BKO dari Pekanbaru.
Selain pemadaman manual, petugas di lapangan juga mengupayakan pengerahan alat berat untuk membuat embung air darurat, pembersihan kanal, serta pembuatan sekat bakar sebagai benteng pertahanan terakhir menahan laju api.
“Dari hasil size up, diperlukan tambahan personel Manggala Agni dari Siak sebanyak dua regu dan satu regu BKO dari Pekanbaru. Kendala utama tetap pada keterbatasan air, luasnya area terdampak, serta tingginya bahan bakar di lokasi,” jelas Ferdian.
Sementara itu, di wilayah lain seperti Desa Gambut Mutiara, Kabupaten Pelalawan, tim Daops Rengat masih terus melakukan pendinginan intensif.
Walaupun api aktif tidak lagi terlihat di permukaan, bara di bawah lapisan gambut masih mengeluarkan asap pekat yang berisiko memicu api baru jika tertiup angin kencang.
Ferdian menegaskan status lahan tersebut belum sepenuhnya padam karena penyisiran di bagian sayap dan ekor api masih berlangsung.
Dukungan dari udara turut dimaksimalkan melalui operasi water bombing oleh BNPB yang dilakukan dalam dua sortie di wilayah Titi Akar dan Bengkalis.
Tak hanya itu, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) juga digelar secara masif sebanyak empat sortie untuk menyemai awan di langit Dumai, Pulau Rupat, Bengkalis, hingga Pelalawan dengan harapan memancing hujan buatan.
“Semoga hasil penyemaian awan ini bisa membantu turunnya hujan malam ini untuk mempercepat proses pemadaman,” harapnya. “Terima kasih atas support dan doa masyarakat semua.”
***









