Oleh: Daru TS
Dini hari itu, ketika dunia masih terlelap dalam selimut sunyi, sebuah bisikan spiritual menyelinap di antara sela-sela sujud. Kita sering kali terbangun bukan hanya karena dering jam weker, melainkan karena beban yang menghimpit dada—sebuah kehilangan, kegagalan, atau ujian yang datang tanpa mengetuk pintu. Dalam hening Tahajud, kita diingatkan kembali pada satu hakikat yang fundamental: *tidak ada sehelai daun pun yang gugur, dan tidak ada satu tetes air mata pun yang jatuh, tanpa seizin-Nya.
Sebuah Izin di Balik Kepedihan
Sering kali kita bertanya, “Mengapa ini terjadi?” Al-Qur’an menjawabnya dengan begitu indah dalam Surah At-Taghabun ayat 11. Allah menegaskan bahwa musibah bukanlah bentuk pengabaian, melainkan sebuah ketetapan yang datang dengan “izin”.
Namun, ada janji yang luar biasa di balik pengakuan tersebut: “…dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya.”
Inilah kunci dari ketenangan. Iman bukan berarti kita kebal terhadap rasa sakit, melainkan sebuah keyakinan bahwa di tengah badai yang paling gelap sekalipun, Allah akan menyalakan “kompas” di dalam hati kita. Petunjuk-Nya membuat kaki tetap tegak saat bumi seolah bergoncang, dan membuat lisan tetap mampu berucap alhamdulillah saat logika manusia sulit menerima.
Luka yang Menyucikan
Kita sering memandang musibah sebagai hukuman. Padahal, melalui lisan Rasulullah ﷺ, kita diajak melihat sisi yang jauh lebih lembut. Beliau bersabda bahwa setiap duri yang menusuk kulit seorang Muslim adalah “penghapus” bagi dosa-dosanya.
Bayangkan betapa Maha Baiknya Sang Pencipta. Dia tidak membiarkan rasa sakit kita menjadi sia-sia. Setiap kesedihan adalah proses pembersihan, dan setiap kesulitan adalah anak tangga untuk meningkatkan derajat keimanan kita ke level yang lebih tinggi. Musibah, dalam kacamata iman, adalah cara Allah membasuh jiwa kita agar kembali bersih saat menghadap-Nya kelak.
Berserah di Bawah Pengetahuan Maha Luas
Allah adalah Al-Alim, Sang Maha Mengetahui. Dia mengetahui masa depan yang tidak kita lihat; Dia mengetahui hikmah di balik sesuatu yang kita benci. Tugas kita bukanlah memahami seluruh rencana-Nya, melainkan mempercayai bahwa rencana-Nya selalu lebih baik dari keinginan kita.
Berserah diri (tawakkal) bukan berarti menyerah kalah, melainkan menitipkan hati kepada Dzat yang memegang kendali atas segala sesuatu. Dengan berserah, beban yang tadinya terasa berat di pundak akan berpindah menjadi kedamaian di dalam dada.
Doa di Penghujung Fajar
Sambil menyambut mentari di 16 Syawal ini, mari kita melangitkan harapan. Semoga Allah tidak hanya mengangkat beban-beban kita, tetapi juga menghiasi hati kita dengan rida.
Semoga setiap langkah kita hari ini dijaga oleh perlindungan-Nya, rezeki kita dibasuh dengan keberkahan, dan raga kita diberi kekuatan lahir serta batin. Di atas segalanya, semoga kita termasuk orang-orang yang hatinya selalu diberi petunjuk, baik dalam suka maupun duka.
Amin Ya Rabbal ‘Alamin.
Wallahu a’lam.(**)









