BERTUAHPOS — Dunia kini menghadapi ancaman serius seiring meningkatnya risiko kemunculan fenomena “Super El Nino” yang berpotensi memicu cuaca ekstrem secara masif pada tahun mendatang.
Para ahli meteorologi memperingatkan bahwa pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tropis tengah dan timur sedang bergerak menuju level yang mengkhawatirkan. Jika pola ini terus berkembang, lonjakan suhu global diprediksi bakal memecahkan rekor panas sejarah pada tahun 2027 dan memperburuk krisis akibat perubahan iklim yang sudah terjadi.
Kondisi ini bermula dari pergeseran fase La Nina menuju pola netral, namun data terbaru menunjukkan peluang sebesar 62 persen bahwa El Nino akan mendominasi mulai musim panas ini. Fenomena ini bukan sekadar kenaikan suhu biasa, melainkan penggerak utama gangguan atmosfer yang mampu membalikkan pola curah hujan dunia.
Wilayah yang terimbas akan menghadapi kontradiksi bencana; mulai dari kekeringan hebat yang memanggang lahan pertanian di Australia, Afrika, dan sebagian Amerika Selatan, hingga badai hujan destruktif yang mengancam wilayah selatan Amerika Serikat serta Asia Tengah.
“Penting untuk dicatat bahwa ketika kita berbicara tentang kekeringan, sebagian besar disebabkan oleh suhu, bukan curah hujan,” tegas Tom Di Liberto, ilmuwan iklim sekaligus direktur media Climate Central, dikutip dari The Guardian, Jumat, 17 April 2026.
Intensitas El Nino kali ini diprediksi masuk dalam kategori “Super” karena potensi kenaikan suhu permukaan laut yang mencapai lebih dari 2°C hingga 2,5°C di atas rata-rata.
Pemanasan ekstrem ini melemahkan angin pasat yang biasanya mendorong air hangat ke barat, sehingga massa air panas berkumpul di Pasifik dan melepaskan energi besar ke atmosfer.
Meskipun model prediksi musim semi memiliki celah ketidakpastian, para pakar atmosfer melihat indikator kuat bahwa cuaca ekstrem kali ini akan menjadi salah satu yang terkuat dalam kurun waktu 140 tahun terakhir.
Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) kini mendesak pemerintah di berbagai negara untuk segera memperkuat manajemen risiko bencana guna menekan kerugian ekonomi dan korban jiwa.
Kehadiran El Nino yang bertumpu pada tren pemanasan global jangka panjang membuat dampak kerusakan lingkungan menjadi jauh lebih sulit dipulihkan. Masyarakat global harus bersiap menghadapi realitas baru di mana cuaca ekstrem menjadi ancaman nyata yang menuntut langkah mitigasi cepat demi menjaga ketahanan pangan, energi, dan kesehatan di tengah kepungan perubahan iklim.***









