BERTUAHPOS.COM — Opor ayam saat Idul Adha bukan lagi pemandangan asing di dapur-dapur rumah orang Indonesia. Meski identik dengan Idul Fitri, banyak keluarga kini menjadikan hidangan berkuah santan ini sebagai pelengkap wajib di meja makan saat Hari Raya Kurban.
Fenomena ini tumbuh secara organik dari tradisi berkumpul keluarga yang memang lekat di setiap hari raya besar Islam. Selain berkurban dan berbagi daging kepada sesama, tradisi berkumpul dengan keluarga besar dan menikmati hidangan khas juga menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perayaan Idul Adha.
Opor ayam sendiri bukan sembarang masakan. Hidangan berupa ayam rebus itu, dimasak dengan bumbu kental berbahan dasar santan serta rempah-rempah khas seperti serai, kencur, dan lengkuas — rasa gurihnya berpadu dengan aroma harum rempah yang membuat siapa pun sulit menolak.
Sejarahnya pun panjang dan kaya. Sejarawan kuliner, Fadly Rahmad, menyebut bahwa opor masuk ke Indonesia sebagai hasil penyatuan budaya, terutama dari pengaruh Arab dan India.
“India menyumbang kari, Arab membawa gulai, lalu masyarakat Indonesia mengolahnya menjadi opor dengan kreativitas tersendiri,” ujarnya seperti dilansir dari Suara, Rabu, 27 Mei 2028.
Yang menarik, opor ayam kini tidak lagi menunggu Idul Fitri untuk hadir di meja makan. Memasak opor ayam telah menjadi momen kebersamaan keluarga, di mana proses memasaknya yang dilakukan bersama-sama justru menambah kehangatan menjelang hari raya.
“Suasana seperti itu yang membuat rasa akrab sesama keluarga semakin terjalin. Makanya, kalau Idul Adha seperti ini, masak opor ayam, rendang dan lain-lain masih kami pertahankan. Kumpul di satu rumah, masak sama-sama,” kata Rasita, seorang ibu rumah tangga di Pekanbaru.
Di banyak rumah, opor ayam saat Idul Adha hadir sebagai pelengkap daging kurban. Kombinasi daging sapi atau kambing hasil kurban dengan semangkuk opor ayam menciptakan variasi hidangan yang justru membuat suasana makan semakin meriah. Opor ayam seperti sudah menjadi simbol sajian yang sederhana namun sarat makna.









