BERTUAHPOS.COM — Di tengah geliat pasar tanaman hias global, sentuhan tangan dingin dari Indonesia telah memperkokoh posisinya sebagai pengembang nomor satu untuk tanaman hias jemani.
Koleksi hibrida dari flora eksotis asal Amazon ini, dapat dilihat di green house milik Owner Istana Authurium Agus Susanto, di Semarang, Jawa Tengah.
Menurutnya, daya magis jemani terletak pada karakter uniknya yang seolah tak pernah membosankan. “Tanaman ini punya seribu wajah, tidak ada satu jemani pun yang sama, kecuali dia hasil split,” ujarnya.
Jemani sejatinya bukanlah tanaman asli Indonesia. Agus menjelaskan, tanaman dengan nama latin Anthurium ini berasal dari bentang alam liar di sekitaran Sungai Amazon, Amerika Selatan.
Bahkan, di habitat aslinya, varian yang tumbuh umumnya hanya berwarna hijau sebab tidak ada upaya pengembangan. “Justru dari tempat asalnya sana, mereka sekarang mengambil bibit ke kita, ke Indonesia,” tambahnya.
Selain pesona visualnya, Agus mengatakan peluang ekonomi dari tanaman hias jemani nilainya sangat tinggi, terutama bagi generasi muda. Seluruh dunia, imbuhnya, kini tengah berburu jemani hasil pengembangan pekebun di Indonesia. “Kita juga hidup dari jemani, naik pesawat pakai daun,” kelakar Agus.
Agus menceritakan tren Anthurium meledak pada periode 2005 hingga 2007. Kala itu, harga fantastis dipegang oleh varietas Jemani Kobra yang dalam katalog bisa menembus angka Rp1 miliar.
Mekanisme pasar serupa diyakininya akan terus berulang seiring lahirnya hibrida-hibrida baru yang lebih unggul. “Nanti, kalau ada hibrid baru lagi, harga juga akan tinggi lagi. Semakin hibrid itu baru dan bagus, harganya akan kuat,” ujarnya.
Adapun rahasia di balik inovasi itu, adalah metode pembiakan melalui persilangan atau hibridisasi, bukan sekadar displit. Hampir semua tanaman di green housenya bisa dikategorikan sebagai hibrida anyar, hasil riset mendalam.
Tujuan awal pengembangan ini, yakni menciptakan jemani warna-warni dari indukan varigata. Caranya adalah dengan menyilangkan jemani varigata bersama jemani hitam untuk menghasilkan anakan yang disebut Jemani Pink.
Namun, peluang mendapatkan jemani berwarna merah sangatlah kecil, hanya sekitar 1 persen dari 1 tongkol yang berisi seratus biji. “Makanya semakin dia langka, semakin mahal,” jelas Agus.
Perjalanan Agus menggeluti tanaman hias jemani ini bermula dari rasa penasaran akan penyebab harga tanaman ini bisa begitu mahal. Dari rasa penasaran itu, tumbuh rasa suka yang kemudian mendorongnya untuk serius memelihara dan mengembangkan Anthurium.
Di green housenya, koleksi yang terpampang adalah indukan generasi pertama atau F1 yang sudah melewati tahap persilangan. Ia bukan lagi varigata orisinal, melainkan sudah memunculkan gradasi warna-warna memikat seperti oranye, cokelat, dan espresso.
Generasi F1 dengan karakteristik yang sudah mulai terlihat jelas ini akan menjadi fondasi untuk menciptakan generasi-generasi selanjutnya. Di sisi lain, green house yang lebih luas menyambut dengan deretan tanaman yang merupakan generasi F2.
Generasi kedua ini menawarkan lini warna yang jauh lebih lengkap, disusun dalam sebuah spektrum bertingkat. Dimulai dari varigata putih yang paling umum, lalu beranjak ke kuning, oranye, dan selanjutnya ke warna espresso yang unik seperti warna kopi.
Dimungkinkan pula munculnya fenomena multicolor dalam 1 daun, perpaduan varigata putih dengan sentuhan pink. Puncak koleksi yang paling mewah bertengger di level atas, dimulai dari Pink Blossom, lalu magenta yang lebih gelap dari ungu, hingga Black Red dengan warna hitam kemerahan di permukaan daunnya.
Peringkat tertinggi dan termahal adalah Black Label, di mana warna hitam pekat mendominasi seluruh permukaan daun. “Semakin tinggi tingkatan warnanya, otomatis juga semakin tinggi harganya,” ungkap Agus.
Di luar nilai jualnya yang selangit, Jemani ternyata tergolong tanaman hias yang sangat mudah dirawat dan bandel. Kunci utama perawatannya, pertama, kebutuhan cahaya matahari tidak langsung yang disarankan menggunakan paranet.
Kedua, penyiraman cukup dilakukan 2 hari sekali secara terukur, ketiga, media tanam wajib poros dengan campuran dasar sekam dan pakis, keempat, sirkulasi udara yang memadai. Dengan 4 langkah simpel ini, Jemani bisa tumbuh sehat dan sangat direkomendasikan bagi para pemula.
Istana Authurium saat ini memfokuskan diri pada kegiatan ekspor lantaran permintaan dari luar negeri yang begitu tinggi. Agus juga aktif mengikuti berbagai pameran internasional, dengan Thailand dan Filipina menjadi destinasi yang paling sering disambangi.
Selain itu, pengiriman juga dilakukan hingga ke Amerika, Afrika, dan Malaysia. Kendati demikian, Agus menegaskan bahwa pasar domestik tetap menjadi perhatian utama dengan memberikan kesempatan bagi para kolektor lokal untuk mendapatkan hibrida terbaru tanpa harus bersaing dengan pasar global.









