• Profil
  • Redaksi
  • Suara Anda
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Pedoman Media Siber
Selasa, November 3, 2026
SUBSCRIBE
BertuahPos
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi
No Result
View All Result
BertuahPos
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi

Kebebasan yang Semu Saat Algoritma Menentukan Apa yang Kita Beli

Melba Ferry Fadly by Melba Ferry Fadly
17 Maret 2026
Memahami Perilaku Konsumen di Era Platform Digital: Etika Algoritma Membentuk Pilihan Pasar

Charly Simanullang

Share on FacebookShare on Twitter

Penulis: Charly Simanullang | Mahasiswa Program Doktor Ilmu Manajemen, Fakultas Eknomi dan Manajemen Bisnis, Universitas Riau


TEORI pemasaran modern dibangun di atas satu asumsi besar yaitu  konsumen merupakan pengambil keputusan yang rasional dan bebas serta dianggap mampu menentukan pilihan berdasarkan kebutuhan, preferensi, dan informasi yang tersedia di pasar.

Namun dalam realitas ekonomi digital saat ini, asumsi tersebut mulai dipertanyakan.

Ketika seseorang membuka aplikasi belanja, menggulir lini masa media sosial, atau mencari produk di mesin pencari lainnya, pilihan yang muncul di layar bukanlah sekadar hasil pencarian yang diinginkan saat itu, tetapi terdapat alternatif informasi yang layak terlihat oleh konsumen. Tanpa disadari, ruang pilihan yang tampak luas itu sebenarnya telah melalui proses kurasi yang kompleks oleh algoritma.

Dalam konteks ini muncul pertanyaan mendasar bagi ekonomi digital modern apakah konsumen benar-benar memilih, atau justru sedang dipilihkan oleh algoritma? Opini saat ini menunjukkan realitas dan dinamika pasar digital jauh lebih kompleks. Dimana dalam ekosistem platform digital, keputusan konsumen tidak lagi terbentuk semata-mata oleh preferensi pribadi, melainkan juga oleh sistem algoritma yang mengkurasi informasi dan pilihan pasar.

Setiap aktivitas digital yang kita lakukan mulai dari pencarian produk, klik pada sebuah konten, hingga interaksi di media social akan meninggalkan jejak data. Jejak data tersebut kemudian dianalisis oleh sistem kecerdasan buatan untuk memprediksi preferensi individu dan menampilkan rekomendasi yang dianggap paling relevan.

Melalui mekanisme ini, platform digital mampu menghadirkan pengalaman konsumsi yang sangat personal dan efisien. Disatu sisi, teknologi  memberikan kemudahan yang belum pernah terjadi sebelumnya, yaitu  konsumen dapat menemukan produk yang sesuai dengan kebutuhan mereka dalam hitungan detik.

Dalam konteks ini akses  konsumen untuk mendapatkan informasi lebih mudah dan proses transaksi semakin sederhana. Namun di sisi lain, perkembangan ini memunculkan pertanyaan yang jauh lebih mendasar apakah konsumen benar-benar memilih secara bebas?

Dalam praktiknya, konsumen jarang melihat seluruh pilihan yang tersedia di pasar, tetapi sebaliknya, konsumen cenderung memilih dari daftar produk yang muncul di halaman pertama hasil pencarian atau rekomendasi platform.

Produk yang tidak muncul dalam ruang visibilitas tersebut hampir tidak memiliki peluang untuk dipertimbangkan. Dengan demikian, algoritma tidak hanya berfungsi sebagai alat pencarian informasi, tetapi juga sebagai arsitek pilihan pasar. Algoritman juga menentukan produk mana yang terlihat dan mana yang tersembunyi, merek mana yang memperoleh perhatian dan mana yang tidak diminati oleh konsumen.

Fenomena ini menandai perubahan mendasar dalam cara pasar bekerja. Jika pada era sebelumnya perusahaan bersaing melalui inovasi produk, diferensiasi merek, dan strategi komunikasi pemasaran, maka pada era platform digital perusahaan juga harus bersaing dalam arena yang baru yaitu arena algoritma.

Keberhasilan suatu merek tidak lagi hanya ditentukan oleh kualitas produk atau kekuatan citra merek, tetapi juga oleh kemampuan merek tersebut beradaptasi dengan logika sistem digital yang mengatur distribusi informasi. Dengan kata lain, kompetisi pasar telah bergeser dari persaingan merek menuju persaingan visibilitas algoritmik.

Dalam konteks ini, muncul fenomena yang oleh sejumlah peneliti disebut sebagai algorithmic consumerism, yaitu situasi di mana pengalaman konsumsi semakin dimediasi oleh sistem komputasi yang bekerja di balik platform digital. Algoritma tidak hanya merefleksikan preferensi konsumen yang sudah ada, tetapi juga secara aktif membentuk preferensi tersebut melalui mekanisme umpan balik.

Ketika konsumen menunjukkan minat pada suatu jenis produk atau konten, algoritma akan memperkuat pola tersebut dengan menampilkan rekomendasi yang serupa secara berulang. Dalam jangka panjang, proses ini dapat mempersempit ruang eksplorasi konsumen dan memperkuat preferensi tertentu.

Akibatnya, konsumen mungkin merasa memiliki lebih banyak pilihan dibandingkan sebelumnya, tetapi sebenarnya mereka bergerak dalam ruang pilihan yang telah disaring oleh sistem digital.

Paradoks inilah yang menjadi salah satu isu paling penting dalam kajian perilaku konsumen kontemporer. Di satu sisi, teknologi digital meningkatkan efisiensi pasar dan memperkaya pengalaman konsumsi. Namun di sisi lain, dominasi algoritma berpotensi mengurangi otonomi konsumen dalam proses pengambilan keputusan.

Implikasi dari fenomena ini tidak hanya terbatas pada perilaku konsumen, tetapi juga menyentuh struktur pasar secara keseluruhan. Platform digital yang mengendalikan algoritma memiliki kekuatan besar dalam menentukan distribusi visibilitas produk. Kondisi ini dapat menciptakan konsentrasi kekuatan ekonomi pada sejumlah kecil platform global yang menguasai ekosistem digital.

Dalam jangka panjang, situasi tersebut memunculkan tantangan baru bagi dunia bisnis, regulator, dan konsumen. Bagi perusahaan, memahami perilaku konsumen saja tidak lagi cukup. Perusahaan juga harus memahami bagaimana sistem algoritma bekerja dan bagaimana mereka dapat beradaptasi dengan dinamika tersebut.

Bagi pembuat kebijakan, muncul kebutuhan untuk memastikan bahwa sistem algoritma bekerja secara transparan dan tidak menciptakan distorsi pasar yang merugikan konsumen maupun pelaku usaha. Sementara bagi konsumen, kesadaran terhadap mekanisme algoritmik menjadi semakin penting agar mereka dapat tetap mempertahankan kendali atas pilihan mereka sendiri.

Masa depan pasar digital akan sangat ditentukan oleh keseimbangan antara efisiensi teknologi dan otonomi manusia. Algoritma memang mampu membantu dalam menemukan pilihan terbaik di tengah jutaan informasi yang ada.

Namun, kita juga perlu menyadari bahwa setiap rekomendasi yang muncul di layar bukanlah sekadar hasil kebetulan, melainkan bagian dari sistem yang dirancang untuk mengarahkan perhatian dan perilaku kita. Dalam konteks inilah pertanyaan mendasar kembali muncul yaitu diera algoritma, siapa sebenarnya yang memilih?***


Simak tilisan Opini menarik lainnya




 

 

Tags: Opini
Share4Tweet3Send
Follow Berita BertuahPos di Google News

Melba Ferry Fadly

Melba Ferry Fadly

Jurnalis di Bertuahpos.com

Berita Terkait

Memperkuat Strategi Pemasaran di Tengah Dinamika Ekonomi
Opini

Memperkuat Strategi Pemasaran di Tengah Dinamika Ekonomi

...

Read moreDetails
Ketika Viral Menjadi Komoditas, Kredibilitas Menjadi Kelangkaan Baru

Ketika Viral Menjadi Komoditas, Kredibilitas Menjadi Kelangkaan Baru

Ekonomi di Tengah Tekanan Lingkungan

Ekonomi di Tengah Tekanan Lingkungan

Percaya pada AI Boleh, Menyerahkan Pilihan? Jangan

Percaya pada AI Boleh, Menyerahkan Pilihan? Jangan

Menciptakan Makna Pasar Energi Bersih Melalui Strategi Diferensiasi Berbasis Nilai

Membaca Apa yang Dirasakan Pelanggan: Tantangan Baru Bisnis Era Moderen

Jaringan Gas Rumah Tangga dan Tantangan Penerimaan Masyarakat

Jaringan Gas Rumah Tangga dan Tantangan Penerimaan Masyarakat

Next Post
Awas Calo! Kepala Terminal BRPS Pekanbaru Minta Pemudik Hanya Beli Tiket di Agen Resmi

Awas Calo! Kepala Terminal BRPS Pekanbaru Minta Pemudik Hanya Beli Tiket di Agen Resmi

Show Transparency Report
  • Profil
  • Redaksi
  • Suara Anda
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Pedoman Media Siber

© 2013-2025 BertuahPos.com.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi

© 2013-2025 BertuahPos.com.