BERTUAHPOS — Harga emas diperkirakan akan melanjutkan reli kenaikan dan semakin menguat menjelang akhir 2025.
Harga emas dunia sudah tembus ke level US$4.500 per troy ons pada perdagangan Rabu, 24 Desember 2025, menurut laporan Investor.id.
Ini menjadi fase baru penguatan harga logam mulia di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Para analis memandang optimistis tren penguatan harga emas masih akan berlanjut hingga akhir tahun.
Menurut Pengamat pasar komoditas Ibrahim Assuaibi, harga emas berpotensi naik ke kisaran US$4.550 per troy ons sebelum penutupan 2025.
Menurut analisisnya, lonjakan harga emas didorong oleh kombinasi faktor geopolitik global, ketegangan politik, serta arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat.
“Kondisi tersebut mendorong investor global menjadikan emas sebagai aset lindung nilai utama,” katanya.
Ia menjelaskan sentimen geopolitik terus memanas di berbagai kawasan, mulai dari Timur Tengah, Eropa, Amerika Selatan, hingga Asia Timur.
Situasi ini meningkatkan permintaan emas di tengah kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi dan keamanan global.
Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran melakukan uji coba rudal balistik berskala besar yang memicu kekhawatiran Israel.
Sementara di Amerika Latin, hubungan Amerika Serikat dan Venezuela juga memanas, dengan Venezuela mencari dukungan dari Kolombia.
Di Eropa Timur, konflik Rusia dan Ukraina masih berlangsung meski terdapat upaya diplomasi menuju gencatan senjata.
Proses tersebut dinilai belum solid karena perbedaan prinsip kedua negara terkait penguasaan wilayah.
Sementara itu, ketegangan di Asia Timur juga menjadi perhatian pasar. China terus meningkatkan tekanan terkait isu Taiwan, yang dinilai berpotensi memicu konflik terbuka dan mendorong lonjakan harga emas global.
Dari sisi Amerika Serikat, sentimen terhadap emas turut dipengaruhi dinamika politik domestik.
Kebijakan tarif dagang pemerintahan Presiden Donald Trump dinilai inkonstitusional oleh Jaksa Agung AS karena menggunakan Undang-Undang Darurat, sehingga memicu ketidakpastian pasar.
Perhatian investor juga tertuju pada kebijakan moneter Federal Reserve. Ketua The Fed Jerome Powell menyampaikan rencana hanya satu kali pemangkasan suku bunga tahun depan.
Namun, perubahan kepemimpinan di bank sentral AS berpotensi menghadirkan kebijakan moneter yang lebih dovish.
Selain faktor geopolitik dan kebijakan moneter, kenaikan harga emas juga didukung oleh sisi penawaran dan permintaan.
Pembelian emas dalam jumlah besar oleh bank sentral global membuat pasokan emas semakin terbatas, sehingga menopang harga di level tinggi.***









