Petunjuk Allah mengingatkan manusia agar menyadari besarnya nikmat yang telah diberikan sejak lahir hingga menjalani kehidupan sehari-hari. Dalam Surah Al-Mulk ayat 23, Allah menjelaskan bahwa manusia dianugerahi pendengaran, penglihatan, dan hati nurani sebagai bekal memahami kebenaran.
Allah SWT berfirman: “Katakanlah, Dialah yang menciptakan kamu dan menjadikan pendengaran, penglihatan, dan hati nurani bagi kamu. Tetapi sedikit sekali kamu bersyukur.”
Ayat ini menjadi teguran agar manusia tidak lalai terhadap nikmat yang begitu besar.
Pendengaran, penglihatan, dan hati bukan sekadar anggota tubuh biasa dalam kehidupan manusia. Ketiganya menjadi sarana penting untuk menerima ilmu, memahami petunjuk agama, dan mengenali tanda kebesaran Allah.
Banyak orang menikmati berbagai fasilitas hidup, tetapi lupa menggunakan nikmat tersebut di jalan yang benar. Tidak sedikit pula yang memakai mata, telinga, dan pikirannya untuk hal yang menjauhkan diri dari ketaatan.
Islam mengajarkan bahwa nikmat terbesar bukan hanya kekayaan atau jabatan duniawi. Kemampuan mendengar ayat Al-Qur’an, melihat kebaikan, dan memahami ilmu agama merupakan karunia yang sangat berharga.
Melalui pendengaran, manusia bisa menyimak nasihat dan ilmu yang membawa manfaat dalam kehidupan. Dengan penglihatan, seseorang dapat melihat ciptaan Allah yang menjadi bukti kekuasaan-Nya di muka bumi.
Sementara itu, hati memiliki peran penting sebagai pusat keimanan dan kesadaran manusia. Hati yang bersih akan lebih mudah menerima kebenaran serta menjauhkan diri dari keburukan.
Rasulullah ﷺ juga mengingatkan bahwa seluruh nikmat akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak. Dalam hadis riwayat Tirmidzi, manusia akan ditanya tentang umur, ilmu, harta, dan tubuh yang digunakan selama hidup di dunia.
Pesan tersebut mengajarkan agar setiap Muslim lebih bijak dalam menggunakan nikmat yang dimiliki. Waktu, tenaga, dan kemampuan seharusnya diarahkan untuk hal yang bermanfaat dan mendatangkan pahala.
Karena itu, bersyukur tidak cukup hanya diucapkan melalui lisan semata. Rasa syukur sejati terlihat dari cara manusia menggunakan pendengaran, penglihatan, dan hati sesuai petunjuk Allah dalam kehidupan sehari-hari.









