• Profil
  • Redaksi
  • Suara Anda
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Pedoman Media Siber
Sabtu, Oktober 3, 2026
SUBSCRIBE
BertuahPos
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi
No Result
View All Result
BertuahPos
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi

Wabah Cacar Guncang Industri Keju Feta, Produksi Terancam

Melba Ferry Fadly by Melba Ferry Fadly
28 September 2026
Wabah Cacar Guncang Industri Keju Feta, Produksi Terancam

Foto: Ilustrasi

132
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

BERTUAHPOS.COM — Industri keju feta Yunani menghadapi tekanan dari gangguan pasokan susu domba dan persaingan produk di pasar internasional.

Wabah cacar domba dan kambing yang merebak sejak 2024, telah memaksa peternakan terdampak untuk memusnahkan seluruh ternak mereka, sementara produksi keju feta Yunani yang mencapai sekitar 154.000 ton pada 2025 bernilai sekitar US$1 miliar per tahun bagi negara itu.

Bagi industri yang bergantung pada peternakan domba dan kambing, kehilangan ternak berarti bukan sekadar berkurangnya jumlah hewan.

Domba yang dimusnahkan merupakan hasil pembiakan selama beberapa generasi dan susunya menjadi salah satu unsur penting yang membentuk karakter feta autentik.

Yunani menerapkan kebijakan pemusnahan seluruh hewan ketika sebuah peternakan dinyatakan terjangkit, termasuk ternak yang masih sehat.

Kebijakan ini berkaitan dengan tingkat penularan penyakit yang tinggi karena virus dapat menyebar melalui udara dan bertahan di wol selama dua bulan.

Gejala penyakit tersebut antara lain demam, bintik-bintik merah dan lesi pada paru-paru. Di antara anak domba, tingkat kematian dapat mencapai 80 persen.

Dilansir dari Business Insider, Senin (28/9/2026), pada 2025, seorang peternak bernama Giannis mengalami langsung dampak kebijakan tersebut.

Setelah menemukan tanda-tanda penyakit pada domba miliknya, beberapa bulan kemudian seluruh ternaknya telah hilang akibat pemusnahan.

Pemerintah menjanjikan kompensasi hingga sekitar 11 euro per ekor. Namun, dampak ekonomi bagi peternakan tidak hanya terkait nilai kompensasi, karena peternak juga kehilangan populasi ternak yang dibangun melalui pembiakan selama beberapa generasi.

Jumlah kasus memang telah menurun. Dari sekitar 1.700 wabah pada 2025, jumlahnya turun menjadi 131 kasus dalam empat bulan pertama 2026.

Meski demikian, seorang ahli bernama Lydia masih mempertanyakan efektivitas langkah yang telah dilakukan. “Sejujurnya, saya tidak tahu apakah langkah tersebut berhasil. Saya juga tidak sepenuhnya mempercayai angka resmi,” kata Lydia.

Gangguan pasokan kemudian menjalar ke bisnis makanan. Katarina Katsuli, pemilik restoran di Athena sejak 1988, biasanya memperoleh keju feta dari Pulau Lesbos. Ketika pasokan terganggu, ia harus mencari pemasok lain dengan biaya yang lebih tinggi.

Katsuli memilih tidak sepenuhnya membebankan kenaikan biaya kepada pelanggan. Restorannya tetap menyediakan feta, termasuk sebagai bagian dari zucchini panggang dan saganaki, makanan pembuka berbahan keju yang digoreng di atas wajan.

“Hal seperti ini bisa semakin banyak terjadi di sektor jasa makanan. Mereka kemungkinan menggunakan alternatif yang lebih murah, terutama sekarang ketika harga susu sapi jauh lebih murah dibandingkan harga feta,” ujarnya.

Persoalan tersebut memperlihatkan pentingnya bahan baku bagi produk yang selama ini memiliki posisi kuat dalam perekonomian Yunani. Keju feta autentik dibuat terutama dari susu domba dengan campuran susu kambing maksimal 30 persen. Ternak juga harus merumput di lingkungan dengan flora lokal.

Thessaly menjadi salah satu kawasan penting dalam rantai pasok ini. Wilayah ini menyumbang sekitar 45 persen produksi feta Yunani. Flora lokal disebut turut memengaruhi cita rasa produk, termasuk karakter earthy dan sedikit pedas.

Anastasios Squadas, generasi ketiga peternak di Thessaly, menjadi bagian dari tradisi peternakan yang menopang produksi tersebut. Sekitar 15 persen tumbuhan di Yunani disebut tidak ditemukan di tempat lain di dunia dan keberadaan flora tersebut diyakini ikut memberikan karakter khas pada susu yang digunakan untuk feta.

Keunikan bahan baku menjadi salah satu alasan Yunani memperjuangkan perlindungan nama feta di pasar Eropa. Setelah sengketa mengenai penggunaan istilah tersebut, Uni Eropa pada 2002 memberikan status Protected Designation of Origin atau PDO kepada feta Yunani.

Status itu menetapkan bahwa feta yang dipasarkan dengan nama tersebut di Eropa harus berasal dari wilayah produksi yang telah ditentukan di Yunani. Sekitar 200 jenis keju di Eropa memiliki perlindungan serupa, termasuk Parmigiano Reggiano dan Manchego.

“Melindungi warisan budaya dan pengetahuan yang telah diwariskan selama berabad-abad mengenai cara memproduksi makanan sangat penting. Karena itu, sebagai masyarakat Eropa, kami mendukung perlindungan terhadap produk-produk tersebut,” ujarnya.

Perlindungan di Eropa tidak otomatis berlaku di seluruh dunia. Di luar Uni Eropa, masing-masing negara dapat menentukan apakah akan mengakui status PDO Yunani. Amerika Serikat dan Turki masih mengizinkan produsen domestik memasarkan produk keju mereka menggunakan label feta.

Pada 2025, pemerintahan Trump menegosiasikan kesepakatan perdagangan dengan Taiwan, Malaysia, dan Argentina yang memungkinkan produk keju Amerika Serikat menggunakan label feta. Kondisi tersebut menambah tekanan kompetitif bagi produsen Yunani di luar pasar Eropa.

Persaingan sebenarnya telah berlangsung sejak feta menyebar ke pasar internasional. Ketika masyarakat Yunani bermigrasi ke Amerika Serikat, Australia, Jerman, dan negara lain, permintaan terhadap feta ikut berkembang.

Produsen di luar Yunani kemudian membuat produk serupa dengan bahan yang lebih murah. Susu sapi menjadi pilihan karena tersedia dalam jumlah besar dan harganya lebih rendah, meski kandungan lemak dan proteinnya lebih rendah dibandingkan susu domba.

Perbedaan bahan baku itu berpengaruh terhadap produk akhir. Feta berbahan susu domba memiliki rasa yang lebih tajam dan tekstur lebih mudah hancur. Saat disimpan dalam air garam, struktur feta yang longgar juga membuat keju menyerap cairan dan mengalami perubahan kelembapan.

Di Yunani, sebagian produsen masih mempertahankan metode tradisional. Hanya sedikit pembuat keju yang menggunakan tong kayu untuk proses pematangan. Feta dapat dimatangkan sekitar 60 hari dengan metode tersebut dan menghasilkan rasa yang lebih kaya serta tidak terlalu asin.

Pada saat yang sama, modernisasi juga berlangsung di industri ini. Alexandro Btos, generasi kedua pemilik Rousas Dairy, menginvestasikan sekitar 7 juta euro untuk mengotomatisasi proses pembuatan keju. Rousas Dairy merupakan salah satu dari lima produsen feta terbesar di Yunani.

Btos sebelumnya bekerja sebagai insinyur sebelum kembali ke bisnis keluarganya. Di fasilitas produksi, pemotongan dadih yang sebelumnya dilakukan dengan tangan kini menggunakan pisau mekanis berukuran besar sebelum masuk ke dalam cetakan.

Feta kemudian dibiarkan mengering berdasarkan beratnya sendiri, bukan ditekan seperti cheddar dan parmesan. Metode tersebut menghasilkan tekstur khas yang longgar dan mudah hancur.

Produk ini memiliki sejarah panjang di Yunani. Bentuk awal feta disebut dalam karya Homer, The Odyssey, sementara istilah “feta” mulai digunakan pada abad ke-17. Kata tersebut berarti “irisan” dan kemungkinan berkaitan dengan cara keju disimpan dalam potongan.

Pada abad ke-20, feta berkembang menjadi makanan pokok masyarakat kelas pekerja Yunani. Popularitas kuliner Mediterania di Amerika Serikat pada 1990-an kemudian memperluas pasarnya, dengan merek seperti Athenos dan President turut memperkuat posisi Wisconsin sebagai salah satu pusat produksi feta.

Sejak memperoleh status PDO pada 2002, produksi feta Yunani meningkat sekitar 21 persen. Namun, industri tersebut kini harus mempertahankan pertumbuhan di tengah hilangnya ternak akibat wabah dan persaingan produk yang menggunakan nama feta di luar Uni Eropa.

Bagi produsen Yunani, persoalannya bukan hanya berapa banyak keju yang dapat dibuat. Rantai pasok tersebut bergantung pada peternakan, ternak yang dibesarkan selama beberapa generasi, kondisi lingkungan, serta pengetahuan pengolahan yang telah diwariskan dalam waktu panjang.

Tekanan tersebut membuat masa depan pasokan feta Yunani bergantung pada pemulihan peternakan setelah wabah, sementara persaingan di pasar internasional tetap berlangsung.

Tags: cacar domba dan kambingekonomi Yunaniekspor kejufeta YunaniIndustri feta Yunanikeju fetapasar globalPDO fetapeternakan Yunaniproduksi kejususu dombaThessalywabah domba
Share3Tweet2Send
Follow Berita BertuahPos di Google News

Melba Ferry Fadly

Melba Ferry Fadly

Jurnalis di Bertuahpos.com

Berita Terkait

No Content Available
Next Post
Kurs Rupiah Hari Ini Tertekan, Simak Penjelasannya

Kurs Rupiah Hari Ini Tertekan, Simak Penjelasannya

Show Transparency Report
  • Profil
  • Redaksi
  • Suara Anda
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Pedoman Media Siber

© 2013-2025 BertuahPos.com.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi

© 2013-2025 BertuahPos.com.