BERTUAHPOS.COM — Sungai Eufrat, salah satu sungai tertua dan paling bersejarah dalam peradaban manusia, mungkin akan menghilang dari kenyataan.
Sungai yang dulunya menjadi tempat lahirnya peradaban Mesopotamia ini menghadapi krisis eksistensial yang memaksa Irak dan Turki menandatangani perjanjian diplomatik darurat pada November 2025 hanya untuk menjaga kelangsungan hidup sungai legendaris tersebut.
Krisis Sungai Eufrat sebenarnya telah terekam diam-diam dari orbit selama lebih dari dua dekade oleh satelit GRACE milik NASA, sepasang satelit yang mengukur perubahan gravitasi Bumi untuk mendeteksi jumlah air di suatu wilayah.
Antara tahun 2003 dan 2010, satelit tersebut mencatat hilangnya sekitar 144 kilometer kubik air tawar dari cekungan Sungai Tigris dan Eufrat secara keseluruhan, seperti dilansir dari SindoNews, Minggu, 31 Mei 2026.
Perubahan iklim menjadi salah satu biang keladi utama di balik menyusutnya debit Sungai Eufrat secara drastis. Suhu di timur laut Damaskus tercatat naik sekitar satu derajat Celsius dibandingkan seabad lalu, sementara curah hujan rata-rata turun 18 milimeter per bulan per abad.
Seiring kenaikan suhu, laju penguapan air pun ikut meningkat tajam sehingga pasokan air hujan untuk mengisi kembali aliran sungai semakin berkurang. Kekeringan berkepanjangan yang melanda kawasan ini semakin memperparah kondisi Sungai Eufrat yang sudah berada di titik kritis.
Di sisi hulu, Turki membangun jaringan bendungan besar yang secara signifikan mengurangi aliran alami Sungai Eufrat ke wilayah Suriah dan Irak.
Aliran tahunan alami sungai ini di perbatasan Turki-Suriah, yang diperkirakan sekitar 30 miliar meter kubik antara 1930 dan 1973, merosot menjadi sekitar 25 miliar meter kubik setelah serangkaian bendungan besar dibangun antara 1974 dan 2010.
Air dari Sungai Eufrat bahkan telah digunakan sebagai alat tekanan politik antarnegara. Pada 2021, Damaskus secara terang-terangan menuduh Ankara sengaja menghalangi aliran sungai di perbatasan yang berdampak langsung pada debit Sungai Eufrat di hilir.
Kondisi ini mendorong Kementerian Sumber Daya Air Irak mengeluarkan peringatan keras bahwa Sungai Eufrat berpotensi mengering sepenuhnya pada tahun 2040.
Peringatan tersebut tidak hanya mengkhawatirkan dari sisi lingkungan dan ketahanan air, tetapi juga memicu berbagai diskusi di kalangan masyarakat yang mengaitkannya dengan berbagai narasi tentang masa depan peradaban manusia, termasuk isu kiamat.









