BERTUAHPOS.COM — Panen mangga Alphonso di negara bagian Maharashtra, India bagian barat, mengalami kehancuran parah musim ini akibat kombinasi cuaca ekstrem El Niño dan gangguan rantai pasokan global. Petani muda Komal Walke, ahli hortikultura berusia 26 tahun asal kota pesisir Devgad, terpaksa mencari buah dari perkebunan lain setelah kebun mangga keluarganya seluas tiga hektar hampir tidak menghasilkan mangga Alphonso sama sekali tahun ini.
“Perbedaan suhu siang dan malam yang tajam pada Desember dan Januari merusak pembungaan dan pembentukan buah, sementara cuaca yang lebih panas dari biasanya pada April dan Mei kemudian merusak buah-buahan itu sendiri,” ujar petugas pertanian pemerintah di Devgad, Bapusaheb Manikrao Lambade, dikutip dari Kyodo News, Minggu, 31 Mei 2026.
Walke tidak sendirian dalam menghadapi tekanan ini. “Jika kita tidak memenuhi pesanan, klien-klien besar tidak akan kembali tahun depan,” katanya, menggambarkan betapa beratnya beban yang harus ditanggung para petani mangga Alphonso musim ini.
Survei yang didukung pemerintah oleh para ilmuwan dan petugas lapangan memperkirakan kerugian panen di Devgad tahun ini mencapai 85 hingga 90 persen. Cuaca ekstrem akibat El Niño juga menyebabkan kerugian serupa di berbagai daerah penghasil mangga lainnya di Maharashtra.
India merupakan produsen mangga terbesar di dunia dan menghasilkan 28 juta metrik ton buah tersebut pada 2024 hingga 2025 menurut data lembaga riset CRISIL. Seluruh hasil panen mangga India tahun lalu bernilai 2,3 miliar dolar AS, dan pasar diperkirakan tumbuh menjadi 3,4 miliar dolar AS pada 2031 menurut perusahaan riset Mordor Intelligence.
Meskipun sebagian besar mangga tetap diserap pasar domestik — mengingat buah ini sangat populer selama musim panas yang terik — sekitar 56 juta dolar AS nilai mangga segar dan 80 juta dolar AS nilai bubur mangga berhasil diekspor pada 2025. Kini, dengan produksi yang termasuk terendah dalam beberapa dekade, angka ekspor tersebut terancam anjlok signifikan.
Kerusakan panen mangga Alphonso ini diperparah oleh dampak perang Iran yang memukul jalur ekspor ke kawasan Teluk. Shridhar Pathak, salah satu pendiri perusahaan ekspor mangga Shreevali Agro, mengungkapkan bahwa biaya pengiriman melonjak lebih dari dua kali lipat, dan pengirimannya ke negara-negara Teluk seperti Dubai dan Oman berkurang hampir 40 persen tahun ini.
Mangga yang semula disiapkan untuk ekspor terpaksa dialihkan ke pasar lokal sehingga harga justru tertekan meski pasokan sedang langka akibat gagal panen. Gangguan ini berdampak domino ke seluruh rantai pasokan, termasuk bisnis-bisnis pendukung yang menggantungkan hidup pada perdagangan mangga musiman.
Sanjay Nare, produsen karton mangga berusia 52 tahun asal Malvan, kota pesisir sekitar 50 kilometer dari Devgad, mengaku menyimpan hampir 100.000 kotak karton yang tidak terjual di pabriknya tahun ini.
“Ekonomi di wilayah ini ditopang oleh mangga dan ikan,” kata Nare. “Tanpa mangga musiman kami di musim panas, kami hampir tidak memiliki apa pun selain itu.”









