BERTUAHPOS – Fasilitas pengolahan minyak mentah terbesar di dunia milik Saudi Aramco, Kilang Ras Tanura, dilaporkan berhenti beroperasi sementara pada Senin, 2 Maret 2026, seiring dengan meningkatkan konflik di Timur Tengah.
Ini merupakan langkah darurat yang harus diambil menyusul serangan pesawat tak berawak (drone) yang menghantam kawasan strategis tersebut di pesisir Teluk Arab.
Meski pihak Saudi Aramco dan pemerintah Kerajaan Arab Saudi belum merilis pernyataan resmi, sejumlah sumber internal mengonfirmasi bahwa penutupan ini merupakan langkah preventif.
Perusahaan saat ini sedang melakukan penilaian menyeluruh terhadap potensi kerusakan infrastruktur.
“Operasional dihentikan untuk memastikan keamanan personel dan fasilitas. Sempat terjadi kebakaran di lokasi, namun api sudah berhasil dikendalikan oleh tim darurat,” ujar salah satu sumber yang mengetahui situasi tersebut, sebagaimana dilaporkan Bloomberg.
Kilang Ras Tanura memiliki peran vital dengan kapasitas pengolahan mencapai 550.000 barel per hari.
Gangguan di titik nadi energi ini langsung memicu kepanikan di pasar internasional. Di bursa London, harga minyak mentah melonjak tajam hingga 9,7 persen.
Para analis menilai serangan ini sebagai “skenario terburuk” bagi stabilitas pasokan energi dunia, terutama karena jalur maritim di Selat Hormuz juga dilaporkan nyaris lumpuh akibat eskalasi militer.
Serangan terhadap aset Aramco ini terjadi di tengah memanasnya suhu politik Timur Tengah pasca serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran akhir pekan lalu. Teheran merespons dengan meluncurkan ratusan rudal dan drone ke berbagai sasaran di kawasan Teluk.
Di tengah ketegangan ini, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, menegaskan bahwa pihaknya menutup pintu dialog dengan Washington.
“Kami tidak akan bernegosiasi dengan AS,” tegas Larijani melalui akun resminya di media sosial X, Senin, 2 Maret 2026.
Larijani juga melontarkan kritik pedas terhadap Presiden AS Donald Trump, menuduhnya telah mengorbankan pasukan Amerika demi kepentingan Israel.
“Dengan khayalannya sendiri, dia (Trump) telah mengubah slogan ‘America First’ menjadi ‘Israel First’ dan mengorbankan pasukan Amerika demi nafsu Israel akan kekuasaan,” tambah Larijani.
Kampanye militer AS-Israel sebelumnya dilaporkan telah menewaskan sejumlah pejabat tinggi Iran. Pihak Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan bahwa upaya diplomatik yang sempat dijajaki pada tahun 2025 kini hancur total akibat agresi militer tersebut.
Dengan berhentinya operasi di Ras Tanura dan kebuntuan diplomasi antara Iran dan AS, volatilitas harga energi diprediksi akan terus meningkat dalam beberapa hari ke depan, mengancam stabilitas ekonomi global yang bergantung pada pasokan minyak Timur Tengah.***









