BERTUAHPOS.COM — Meski harga gas melonjak, negara-negara di Asia Tenggara tetap melanjutkan pembangunan pembangkit listrik berbahan bakar gas alam.
Perang di Timur Tengah telah mendorong kenaikan harga gas secara signifikan. Di saat bersamaan, sejumlah negara di kawasan ini juga terus memperluas kapasitas impor gas alam cair (LNG).
Menurut Laporan Global Energy Monitor (GEM), sekitar 100 gigawatt (GW) kapasitas pembangkit listrik berbahan bakar gas tengah dalam tahap pembangunan di Asia Tenggara.
Selain itu, terdapat pula sekitar 70 GW kapasitas fasilitas impor LNG yang tengah dikembangkan di kawasan yang sama.
GEM memperingatkan bahwa ekspansi berkelanjutan infrastruktur impor LNG berpotensi memperbesar ketergantungan Asia Tenggara terhadap gangguan pasokan dan volatilitas harga.
“Ekspansi berkelanjutan infrastruktur impor LNG berisiko memperbesar ketergantungan terhadap gangguan pasokan dan volatilitas harga yang semakin terlihat selama krisis,” tulis GEM dalam laporannya itu, dikutip Bertuahpos.com, Jumat, 26 September 2026.
Menurut GEM, negara-negara di kawasan ini sebenarnya dapat menekan ketergantungan terhadap LNG impor dengan meningkatkan produksi gas alam domestik.
Namun, langkah tersebut membutuhkan waktu karena pengembangan ladang gas baru tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat.
Sedikitnya ada 20 ladang gas terindentifikasi berpotensi menambah kapasitas produksi sekitar 62 miliar meter kubik per tahun (bcm/y) pada 2035.
Walau begitu, GEM menyatakan pengembangan pasokan baru itu butuh waktu bertahun-tahun, dan belum tentu seluruh hasil produksinya dapat dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan pembangkit listrik domestik.
Asia dikenal sebagai kawasan dengan permintaan LNG terbesar di dunia dan telah gencar membangun infrastruktur LNG selama bertahun-tahun terakhir.
Rencana ekspansi tersebut sebelumnya ditopang oleh harga gas yang relatif rendah, sehingga proyek pembangkit maupun infrastruktur impor dinilai layak secara komersial.
Situasi berubah setelah perang di kawasan Teluk Persia menyebabkan penurunan tajam pasokan LNG yang tersedia di pasar global, sekaligus mendorong harga gas naik signifikan. Kondisi ini kemudian mengurangi minat sebagian importir Asia untuk semakin bergantung pada LNG impor.
GEM menilai perang tersebut kini menjadi ujian nyata bagi rencana ekspansi gas di Asia Tenggara. Lembaga ini menyebut sebagian besar proyek yang masih direncanakan bergantung pada tiga asumsi utama: pasokan LNG akan tetap tersedia secara andal, harganya tetap terjangkau untuk bersaing dengan sumber energi lain, dan produksi gas domestik dapat menjadi cadangan ketika pasokan impor terganggu.
GEM menyatakan masih perlu dilihat apakah ketiga asumsi tersebut dapat bertahan, terutama ketika konflik di kawasan Teluk Persia terus berlangsung hingga memasuki bulan ketujuh.









