BERTUAHPOS — Pemerintah secara resmi mengalihkan fokus strategi pariwisata dengan membidik potensi wisatawan mancanegara asal Asia Tenggara, sebagai prioritas utama.
Langkah ini harus dilakukan bertujuan untuk menambal kekosongan devisa akibat merosotnya kunjungan turis asal Eropa dan Amerika Serikat yang terdampak konflik geopolitik dunia.
Anggota Komisi VII DPR RI, Hendry Munief, menilai bahwa mengandalkan pasar regional adalah solusi paling realistis serta adaptif dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global saat ini.
Hendry mengungkapkan Indonesia kehilangan potensi kunjungan hingga 1,64 juta wisatawan internasional akibat krisis global tersebut.
Oleh karena itu, penguatan kerja sama dengan negara-negara tetangga di ASEAN kini menjadi harga mati, bukan hanya sebagai sumber pelancong, melainkan juga sebagai mitra strategis dalam pengembangan industri dan ekspor produk lokal ke depannya.
“Potensi short-haul seperti Asia Tenggara sangat realistis kita garap saat ini. Dinamika pasar global menjadi bukti bagaimana peta kekuatan pariwisata dunia berkembang ke depannya,” urai Hendry, Senin, 6 April 2026.
Ia menekankan bahwa Indonesia harus bergerak cepat mengamankan pasar yang secara jarak lebih dekat dan memiliki kestabilan ekonomi yang relatif lebih baik dibandingkan pasar long-haul yang tengah bergejolak.
Sebagai langkah konkret mendukung percepatan ini, Hendry mendesak pemerintah untuk segera merampungkan infrastruktur penghubung regional yang strategis.
Salah satu proyek yang menjadi sorotan utama adalah jalur laut Roll On-Roll Off (Ro-Ro) yang mengubungkan Dumai, Provinsi Riau, dengan Melaka, Malaysia.
Infrastruktur ini diyakini akan menjadi urat nadi baru bagi arus masuk wisatawan dan barang secara lebih efisien dari semenanjung Malaya menuju Indonesia.
Melalui integrasi jalur transportasi laut yang lebih masif, pemerintah berharap aksesibilitas antarnegara Asia Tenggara semakin terbuka lebar.***









