Kasus Karikatur Nabi Muhammad Berpotensi Rusak Hubungan Islam dengan Prancis

Minggu, 25 Oktober 2020 04:30
Kasus Karikatur Nabi Muhammad Berpotensi Rusak Hubungan Islam dengan Prancis

BERTUAHPOS.COM, PEKANBARU — Kasus Karikatur Nabi Muhammad yang diterbitkan pada Charle Hebdo berpotensi akan merusak hubungan Islam dengan Prancis. Karikatur yang diterbitkan ulang oleh majalah itu jelas sebuah pelecehan agama. Begitu pandangan Organisasi Kerjasama Islam (OKI), menanggapi kasus tersebut.

Menurut OKI, pernyataan sejumlah politisi Prancis yang membenarkan penerbitan karikatur nabi, serta menghubungkan aksi teror dengan ajaran Islam, dapat merusak hubungan umat antarberagama. Harusnya itu tidak dilakukan oleh politisi di sana.

Advertisement

“Sekretariat OKI telah mengikuti aksi penerbitan karikatur satire yang memperlihatkan sosok Nabi Muhammad, (kami) takjub mengetahui adanya penilaian yang tidak diharapkan dari sejumlah politisi tertentu di Prancis,” tulisnya dalam pernyataan resmi.

Mengingat pemikiran itu dapat mengancam hubungan Muslim dan rakyat Prancis, meningkatkan kebencian antarsesama, dan hanya menjadi komoditas politik kelompok tertentu. OKI mengingatkan seluruh pihak bahwa aksi pidana yang mengorbankan Paty tidak dapat dihubungkan dengan ajaran Islam.

Baca: Recep Tayyip Erdogan: Trump Memantik Kemarahan Besar Berbagai Negara di Dunia

BACA JUGA:  Catatan Sejarah 29 Januari: Sistem Khulafaur Rasyidin Berakhir

“Kami berusaha mengingatkan tidak ada hubungan antara kejahatan mengerikan ini dari Islam dan nilai-nilai welas asih yang diajarkan. (Kami, red) menilai insiden itu merupakan aksi teror yang dilakukan oleh individu atau kelompok teroris tertentu yang harus dihukum sesuai dengan aturan perundang-undangan,” terang OKI.

Organisasi lintas negara itu kembali menegaskan tidak ada kaitannya Islam, Muslim, dengan terorisme. Charlie Hebdo, tabloid satire mingguan Prancis, bulan lalu kembali menerbitkan karikatur kontroversial Nabi Muhammad. Karikatur itu pun ditunjukkan kepada sejumlah siswa di Prancis oleh Samuel Paty, seorang guru berusia 47 tahun.

Namun setelah kegiatan itu, Paty tewas dibunuh di daerah pemukiman pinggir kota di Paris, Conflans-Sainte-Honorine, pada 16 Oktober 2020. Pelaku pembunuhan merupakan seorang pemuda berusia 18 tahun kelahiran Rusia dan keturunan etnis Chechen, Abdoullakh Abouyedovich Anzorov. Anzorov, beberapa menit kemudian, juga tewas tertembak oleh polisi di tempat kejadian. (bpc2)