BERTUAHPOS — Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) — untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) — melaporkan bahwa Israel menahan masuknya sekitar 6.000 truk pembawa bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza.
Truk tersebut tidak hanya membawa bahan pokok dan obat-obatan, tetapi juga perlengkapan darurat seperti tenda dan selimut untuk lebih dari 1,3 juta pengungsi.
Penasihat media UNRWA, Adnan Abu Hasna, mengatakan jumlah truk yang berhasil memasuki Gaza memang meningkat sejak diberlakukannya gencatan senjata.
Namun, ia menegaskan jumlah tersebut masih sangat jauh dari kebutuhan di lapangan, mengingat krisis kemanusiaan yang semakin parah.
Abu Hasna menyebut Israel tetap memblokir ratusan jenis barang penting, termasuk pasokan kesehatan, peralatan air dan sanitasi, serta bahan pangan pokok.
“Yang diizinkan masuk hanya sebagian kecil truk bermuatan barang komersial, sementara 95% warga Gaza bergantung sepenuhnya pada bantuan,” ujarnya kepada Middle East Monitor.
Sebagian besar penduduk Gaza telah kehilangan daya beli akibat perang berkepanjangan. Situasi ini memaksa mereka bergantung pada bantuan kemanusiaan sebagai satu-satunya sumber kebutuhan harian yang tersisa.
Dalam laporan terpisah, Badan Perdagangan dan Pembangunan PBB (UNCTAD) mengungkapkan bahwa perang dua tahun terakhir di Gaza serta pembatasan ekonomi di Tepi Barat telah meruntuhkan pertumbuhan ekonomi Palestina yang dibangun selama lebih dari dua dekade. Pemulihan Gaza diperkirakan membutuhkan waktu puluhan tahun jika situasi kembali stabil.
UNCTAD mencatat ekonomi Palestina mengalami kontraksi 30 persen pada 2024 dibandingkan 2022, penurunan paling tajam sejak pencatatan dimulai pada 1972.
Wakil Sekretaris Jenderal UNCTAD, Pedro Manuel Moreno, menyebut kondisi ini “penurunan terdalam yang pernah tercatat”.
Ekonom UNCTAD, Rami al-Azzeh, mengungkapkan PDB per kapita di Gaza kini hanya 161 dolar AS per tahun atau sekitar 44 sen per hari, menjadikannya salah satu yang terendah di dunia.
Ia memperkirakan Gaza membutuhkan waktu puluhan tahun untuk kembali menghasilkan pendapatan seperti sebelum konflik.
UNCTAD juga menyoroti buruknya kondisi di Tepi Barat akibat pembatasan akses dan meningkatnya serangan pemukim yang menghalangi warga Palestina mengakses kebun dan ternak. Situasi ini memperparah krisis ekonomi yang melanda kedua wilayah tersebut.
Sementara itu, meski Israel dan Hamas telah menyepakati gencatan senjata pada 10 Oktober 2025, Israel disebut terus melancarkan serangan udara ke Gaza dan melanggar kesepakatan.
Hingga kini, agresi Israel yang berlangsung sejak Oktober 2023 telah menewaskan lebih dari 69 ribu warga Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak.
Sumber: Republika









