AROMA kopi hitam menyeruak. Aroma itu dibawa oleh uap tipis yang naik perlahan membawa wangi pahit khas kopi. Ini adalah aroma yang begitu akrab di hidung kebanyakan orang Indonesia, terutama bagi mereka yang suka menyeruput kopi sambil bekerja.
Di atasnya, saringan logam sederhana bertengger, meneteskan kopi sedikit demi sedikit. Banyak orang percaya, inilah cara lama menyeduh kopi, cara yang kini justru kembali digemari di tengah tren kopi modern.
Bagi sebagian penikmat kopi, ritual menyeduh seperti ini bukan sekadar membuat minuman, tapi memberi jeda di tengah rutinitas yang serba cepat. Saya menikmati pemandangan ini di Getigo Coffee, sebuah kedai kopi, Jalan Pepaya, Pekanbaru, Senin, 23 Maret 2025, yang masih lengang. Maklum, ini baru hari ketiga lebaran Idulfitri 2026.
Siklus metode seduh kopi tradisional jangan dianggap suatu hal yang kuno. Ini adalah tanda, bahwa kopi bukan hanya soal rasa, tetapi juga cerita dan proses. Kita harus mengakui bahwa secangkir kopi selalu menemukan jalannya, dari tangan yang tetap, ke bibir yang tepat, sehingga dia selalu bisa dinikmati. Seperti simbol gaya hidup santai, namun autentik di era serba digital.
Pagi ini, saya menyeruput Vietnam Drip, sambil membaca beberapa artikel dari mana asal usulnya.
Vietnam Drip atau yang secara lokal dikenal dengan nama “phin” bukan sekadar metode seduh kopi biasa. Dia sudah menjadi simbol budaya yang mendunia.
Sebuah artikel yang diterbitkan Bumi Boga Laksmi, menjelaskan bahwa teknik tradisional ini menggunakan filter logam kecil untuk menghasilkan ekstrak kopi yang sangat pekat, kental, dan bold.
Berbeda dengan mesin kopi modern, phin membiarkan air panas meresap perlahan melalui bubuk kopi dark roast (robusta), menciptakan tetesan hitam pekat yang jatuh langsung di atas lapisan susu kental manis.
Paduan rasanya, ya, sama seperti yang saya rasakan, pahit yang intens dan manisnya kental manis. Munkin akan lebih creamy jika kental manis diganti dengan susu fullcream. Namun tetap saja, minuman ini tetap bisa dinikmati dengan suguhan cà phê sữa nóng (panas) atau ca phe sua da (dingin).
Keberadaan kopi di Vietnam berawal pada tahun 1857 saat seorang pastur asal Prancis membawa bibit kopi Arabika ke dataran tinggi Buon Ma Tuot (The Vietnamese Coffee Company: The History of Vietnamese Coffee). Namun, perkembangan Vietnam Drip sendiri justru lahir dari keterbatasan di era kolonialisme Prancis. Saat itu, masyarakat lokal kesulitan mengakses alat seduh modern seperti French Press atau mesin espresso, sehingga mereka berinovasi menciptakan phin yang sederhana namun efektif.
Dari sini, diketahui bahwa sejarah secangkir Vietnam Drip tidak semanis dengan kelezatan kopi yang disajikan dan populer saat ini. Kopi Vietnam Drip berkembang selama era kolonialisme Prancis di Vietnam, beberapa literatur menyatakan bahwa sejarah kopi telah mencatat teknik ini sebagai simbol nasionalisme dan kreativitas warga Vietnam dalam menghadapi penjajahan.
Kehadiran kental manis dalam segelas kopi Vietnam juga memiliki alasan historis yang unik terkait kondisi iklim dan keterbatasan logistik di masa lalu. Pada masanya, Vietnam sangat sulit memproduksi susu segar maupun gula pasir untuk campuran kopi. Sebagai solusinya, masyarakat mulai menggunakan susu kental manis yang lebih tahan lama dan mudah disimpan untuk menggantikan krim.
Budaya ini kemudian diwariskan secara turun-temurun dan menjadi ciri khas yang tak terpisahkan. Kini, Vietnam telah menjelma menjadi produsen kopi terbesar kedua di dunia, di mana kualitas biji robusta mereka diakui secara internasional karena karakter rasanya yang kuat.
Banyak orang sering menyamakan Vietnam Drip dengan kopi susu biasa, padahal keduanya memiliki perbedaan karakteristik yang sangat kontras. Perbedaan utama terletak pada metode ekstraksi; jika kopi susu biasa sering menggunakan French Press atau mesin drip yang menghasilkan tekstur ringan, Vietnam Drip menghasilkan cairan yang jauh lebih kaya dan aromatik karena proses perendaman bubuk kopi yang lambat di dalam phin.
Selain itu, penggunaan susu kental manis memberikan tekstur yang lebih tebal dibandingkan kopi susu yang umumnya menggunakan susu segar atau susu evaporasi. Hal inilah yang membuat Vietnam Drip memiliki aroma khas yang sulit ditiru oleh teknik seduh manual lainnya.
Cara menyeduh Vietnam Drip pun sebenarnya cukup sederhana namun membutuhkan kesabaran untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Bubuk kopi ditempatkan di dalam phin, lalu air panas dituangkan sedikit demi sedikit untuk proses blooming atau melembabkan bubuk kopi selama 30 detik.
Setelah itu, air panas kembali dituangkan secara perlahan hingga phin penuh dan kopi meresap melalui lubang-lubang kecil selama beberapa menit. Karena harga alat seduh manual ini sangat terjangkau, Vietnam Drip kini menjadi pilihan favorit bagi mereka yang ingin memulai koleksi alat kopi di rumah. Fleksibilitas metode ini juga memungkinkan para penikmat kopi untuk bereksperimen dengan berbagai jenis biji kopi sesuai selera masing-masing.***









