BERTUAHPOS — Nasehat klasik dari ‘Bapak Investasi’, Warren Buffet, tentang strategi investasi bahwa “semakin sering investor bertindak, semakin besar potensi kerugian yang mereka ciptakan sendiri”, berhasil dibuktikan lewat studi terbaru Morningstar.
Studi ini membuktikan bahwa perilaku investor adalah penentu paling utama, bahkan kerap menjadi penghambat pertumbuhan aset jangka panjang.
Dilansir dari Investor.id, riset Morningstar ini melakukan kajian pada rentang periode 10 tahun (hingga 31 Desember 2024), menemukan adanya adanya kesenjangan signifikan antara Total Return dan Investor Return.
Total Return mencerminkan kinerja murni aset, sementara Investor Return menggambarkan keuntungan nyata yang benar-benar diperoleh investor setelah keputusan beli dan jual.
Hasilnya, Total Return tercatat sebesar 8,2% per tahun jika investasi dilakukan sekali dan dibiarkan tanpa intervensi. Namun, Investor Return hanya mencapai 7,0% per tahun.
Selisih 1,2% ini setara dengan pengikisan keuntungan hingga 15% akibat perilaku investor sendiri.
Studi ini menyimpulkan bahwa sebuah tindakan yang dilakukan secara tiba-tiba atau spontan (impulsif) menjadi penyebab utama kerugian tersebut.
Investor kerap panik menjual saat pasar turun dan tergoda membeli saat harga tinggi karena Fear of Missing Out (FOMO).
“Pola ini membuat investor membeli mahal dan menjual murah—kebalikan dari prinsip investasi sehat,” bunyi hasil riset itu.
Bahkan perilaku yang terlihat disiplin, seperti rebalancing rutin atau penyesuaian portofolio berkala, tetap berpotensi menggerus imbal hasil.
Biaya transaksi dan kesalahan timing pasar menjadi faktor yang sering diabaikan, tetapi berdampak nyata dalam jangka panjang.
Studi ini juga mencatat bahwa dana alokasi seperti reksa dana target-date memiliki selisih paling kecil antara Total Return dan Investor Return.
Strategi pasif yang minim campur tangan investor terbukti mampu menekan risiko kesalahan psikologis.
Temuan Morningstar ini sejalan dengan pandangan Warren Buffett yang konsisten mendorong strategi buy and hold.
Buffett menegaskan bahwa bagi investor ritel yang tidak mengelola investasi secara profesional, pendekatan sederhana dan sabar justru paling menguntungkan.
Kesimpulan utama riset ini, bahwa musuh terbesar investor bukanlah volatilitas pasar, melainkan perilaku mereka sendiri.
Ketidakmampuan untuk tetap tenang dan konsisten sering kali membuat potensi keuntungan jangka panjang terbuang sia-sia.***









