BERTUAHPOS — Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) gagal bertahan dan terpaksa parkir di zona merah pada penutupan perdagangan Jumat, 6 Maret 2025.
Eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran menjadi beban berat yang menyeret indeks saham domestik hingga terkoreksi tajam.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG merosot 1,62% atau kehilangan 124,85 poin ke posisi 7.585,69.
Performa lesu ini menutup pekan yang berat bagi investor, dengan total nilai transaksi mencapai Rp17,78 triliun dari perdagangan 34,18 miliar lembar saham.
Analis Phintraco Sekuritas mengungkapkan bahwa sentimen negatif utama berasal dari ketegangan di Selat Hormuz yang merupakan jalur vital minyak dunia.
Laporan Bloomberg menyebut jalur tersebut nyaris tertutup total, yang seketika menyulut lonjakan harga komoditas energi.
Minyak mentah jenis WTI melambung 4,69% ke level US84,81 per barel, sementara jenis Brent naik 2,38% ke posisi US87,44 per barel.
“Penurunan IHSG hari ini dipicu oleh eskalasi perang yang tak kunjung reda meski sudah memasuki hari ketujuh. Secara teknikal, posisi IHSG saat ini berada di bawah MA5 dan MA20, yang mengindikasikan tekanan jangka pendek masih berlanjut,” tulis tim analis Phintraco Sekuritas dalam laporannya.
Aksi jual melanda seluruh indeks sektoral tanpa terkecuali. Sektor industri menjadi korban terdalam dengan kejatuhan mencapai 3,37%. Kondisi ini memperburuk catatan mingguan IHSG yang sudah terkikis 7,89% dalam sepekan terakhir.
Angka ini menjadi rapor mingguan terburuk IHSG sejak awal tahun, bahkan melampaui dampak gejolak rebalancing MSCI pada akhir Januari lalu.
Berbeda dengan Jakarta, bursa Asia lainnya bergerak variatif (mixed). Hang Seng (Hong Kong) justru melesat 1,72% dan KOSPI (Korea Selatan) naik tipis 0,02%.
Namun, mayoritas bursa di Thailand, Taiwan, Filipina, dan India kompak memerah menyusul IHSG.
Di sisi lain, tekanan eksternal ini juga memukul nilai tukar rupiah. Mata uang Garuda melemah 0,12% ke level Rp16.925 per dolar AS.
Nasib serupa juga dialami mata uang regional lainnya seperti Ringgit Malaysia, Rupee India, Won Korea, dan Baht Thailand yang ikut layu di hadapan greenback.***








