BERTUAHPOS.COM — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup pekan ini dengan tekanan berat, menambah daftar koreksi yang sudah berlangsung sejak awal pekan. Pada perdagangan Jumat, 26 Juni 2026, IHSG ambles 1,72% atau 102,90 poin ke posisi 5.896,13, sehingga total pelemahan sejak Senin mencapai 4,55%.
Pasar menunjukkan aktivitas yang lesu dengan total transaksi hanya menembus Rp12,73 triliun. Angka ini terjun bebas hingga hampir separuh dari rata-rata transaksi harian pekan sebelumnya yang mencapai Rp25 triliun.
Mayoritas saham kompak bergerak di zona merah, di mana 571 saham mengalami pelemahan dan hanya 121 saham yang mampu menguat. Sebanyak 122 saham lainnya terpantau stagnan tanpa arah pergerakan yang jelas.
Sektor barang baku menjadi pemberat terdalam pasar dengan koreksi mencapai 5% akibat tekanan harga komoditas logam. Sementara itu, sektor keuangan menjadi satu-satunya penopang yang berhasil mencatatkan penguatan tipis 0,03%.
Dilansir dari IDN Finance, Analis Phintraco Sekuritas menyoroti bahwa sentimen negatif dari kawasan Asia menjadi biang keladi penurunan IHSG kali ini. Tekanan jual pada saham-saham berbasis Artificial Intelligence (AI) memicu koreksi di sektor teknologi, yang kemudian merembet dan menyeret harga komoditas logam ke level korektif.
Secara teknikal, posisi IHSG kini sudah kembali berada di bawah garis MA5, MA10, dan MA20 sebagai indikator tren jangka pendek. Pelemahan histogram positif pada MACD serta Stochastic RSI yang memasuki area pivot memperkuat sinyal bearish, sehingga indeks berpeluang menguji support di kisaran 5.700 hingga 5.800 pada pekan depan.
Pelemahan ini tidak hanya dialami bursa domestik, karena KOSPI Korea Selatan justru mencatatkan penurunan paling tajam di kawasan dengan koreksi 5,81%. Bursa Taiwan (TWSE) mengikuti dengan penurunan 3,64%, sementara Hang Seng Hong Kong turut tenggelam 1,76%.
Di pasar valuta asing, rupiah justru menunjukkan ketahanan dengan menguat tipis 0,12% ke level Rp17.922 per dolar AS. Penguatan ini terjadi seiring pelemahan indeks dolar AS (DXY) sebesar 0,23% yang turut mendorong mata uang regional lain seperti ringgit Malaysia menguat 0,71% dan won Korea Selatan naik 0,43%.









