BERTUAHPOS.COM — Obligasi Indonesia dinilai masih berpotensi melanjutkan reli hingga akhir 2025, seiring meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kelanjutan pemangkasan suku bunga oleh Bank Indonesia (BI).
Beberapa lembaga keuangan global dan nasional memperkirakan penurunan imbal hasil (yield) obligasi acuan tenor 10 tahun akan berlanjut dalam beberapa bulan ke depan.
Nomura Holdings memperkirakan yield obligasi 10 tahun dapat turun hingga 5,75% pada akhir tahun dari posisi saat ini sekitar 6%. Sementara itu, Sucor Sekuritas memproyeksikan penurunan lebih dalam hingga 5,5%, didorong oleh sinyal dari BI yang membuka ruang untuk pelonggaran kebijakan moneter. Manulife Aset Manajemen Indonesia juga melihat tren penurunan yield akan berlanjut di tengah prospek inflasi rendah dan stabilitas ekonomi makro.
“Ada tekanan penurunan pada yield, terutama di tenor pendek, akibat ekspektasi pelonggaran kebijakan BI,” ujar Nathan Sribalasundaram, ahli strategi suku bunga Nomura. Ia menilai fokus BI kini mulai bergeser dari stabilitas nilai tukar menuju kebijakan yang lebih pro-pertumbuhan.
BI sendiri menahan suku bunga acuan pada Oktober 2025 setelah tiga kali pemangkasan berturut-turut. Gubernur Perry Warjiyo menegaskan ruang pelonggaran masih terbuka mengingat inflasi terkendali dan pertumbuhan ekonomi domestik belum mencapai kapasitas optimal. Data menunjukkan yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun sempat menembus level di bawah 6% pada 16 Oktober sebelum kembali stabil.
Perubahan posisi Menteri Keuangan dari Sri Mulyani Indrawati ke Purbaya Yudhi Sadewa sempat menimbulkan kekhawatiran investor mengenai potensi peningkatan belanja negara dan pelonggaran batas defisit fiskal. Namun, Purbaya menegaskan komitmennya terhadap disiplin fiskal, yang dinilai mulai memulihkan kepercayaan pasar.
“Menteri Keuangan baru sejauh ini menyampaikan pesan yang menenangkan. Meski ada dorongan untuk memperluas belanja, disiplin defisit 3% tampaknya masih akan dipertahankan,” kata Sribalasundaram.
Kendati begitu, tantangan masih ada. Kepemilikan asing terhadap obligasi pemerintah turun menjadi 13,7% dari total outstanding, dibanding 14% pada September, di tengah kekhawatiran terhadap kebijakan fiskal dan independensi bank sentral. “Investor masih melihat peluang di pasar obligasi Indonesia, namun dengan sikap lebih hati-hati,” ujar Mitul Kotecha dari Barclays.
Di sisi lain, ekspektasi pemangkasan suku bunga The Federal Reserve AS turut memperkuat sentimen positif terhadap obligasi domestik. Kepala riset Sucor Sekuritas, Ahmad Mikail Zaini, menilai peningkatan likuiditas akibat penempatan dana pemerintah di bank-bank BUMN dan penurunan surat berharga BI akan menjadi katalis tambahan bagi minat investor terhadap obligasi tenor panjang.***
Sumber: Bloomberg








